Pria bergelar Panglima Api ini jika dilihat dari perawakannya tidaklah istimewa, sosok lelaki berusia tak lebih empat puluh tahun dengan wajah sebagaimana orang Dayak pada umumnya. Bermata sipit, rambut lurus sekilas hampir sama dengan orang mongolia, hanya saja aura magis yang terpancar darinya dapat membuat layu apapun yang dilewatinya, kendati tak pernah lepas sekilas senyum dari sudut bibirnya.

Tak ada sebilah mandaupun terselip di pinggangnya, hanya ikat kepala berwarna merah yang menandakan dia adalah seorang pejuang Dayak. Konon cerita, Panglima Api memiliki mandau gaib yang dapat diambil kapan saja dari tato yang tergambar di dadanya. Mandau ini pula yang digunakan sebagai alat transportasi dengan cara berdiri di atas mandau tersebut : Mandau Terawang[1]!!

Panglima Api jarang sekali menggunakan mandau sebagai senjata, sebab tugasnya adalah seorang Pemapui[2]. Dengan keahlian yang tidak dimiliki semua pejuang Dayak itu, dia dapat membakar apapun dengan sekali tiup atau meludah saja. Bahkan anehnya yang terbakar hanyalah sasaran yang dituju saja, tanpa mengenai sekelilingnya, rumput sekalipun.

“Ini adalah Nyai Tewang Kampung dari Kampung Tewang, disebelahnya adalah sepasang Basir[3] kembar dari Tumbang Mentangai, Tambang dan Tambing, dan di seberang itu adalah Ledit putra mendiang Damang Penda Mentaya beserta lima orang pengikutnya” Damang Samuda memperkenalkan satu-persatu tamunya.

“Hmmm, tak kusangka akhirnya dapat bertemu dengan para pesohor Dayak Kalimantan Tengah beserta keturunannya” puji Panglima Api seraya mengangkat gelas baramnya tanda bersulang.

“Kukira sosok ngayau wanita dan sepasang basir pangapit kembar hanyalah kabar angin belaka” ujarnya menambahkan. Diamini ketiganya dengan anggukan hormat.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Perempuan Sungai Katingan

2 Februari 2009

I

Mengupas senja di sudut hari yang semakin renta saja
Menekuni bait-bait Ilahi di Surau yang juga mulai menua
Ah, apakah sudah terlalu jauh untuku pulang ke rumah
Seperti Surau itu akupun mulai menua
Seperti senja ini akupun semakin renta saja

Di hulu sana menggelora ulak kuala
Membawa hanyut ratik meranti
Sungai-sungai pasang membala
Semoga surut esok pagi

Sungguh wangi sayur humbutmu
Direbus kaldu kesetiaan
Tak tertepis merindukanmu
Perempuan Sungai Katingan

Semoga dapat kulupakan
II

Seraut wajah berisi kegetiran hati
Beranjak lelap dengan kecewa
Jauh memandang ke ufuk mimpi
Tidak pula pagi menjelma :
Lelakikah rumah singgah saat lelah?

Aku tak mampu bicara cinta
Sungguh…
Bukan berarti hatiku masih tertinggal di masa lalu
Saat ini dan sampai nanti, pasti kutitipkan rindu-rinduku

Tapi apa yang kau terima?
Dariku hanya malumu
Dariku hanya sedihmu
Dariku kehampaanmu
Tak cukupkah agar kau benar-benar menjauh?

Akupun terlalu mencintaimu

Dalam pekat malam berjalan tergesa seorang pria berikat kepala merah, di pinggangnya terselip sebilah mandau bercorak simpai[1] panglima pada kumpang[2]nya. Di belakang mengikuti lima orang pria dengan ikat kepala yang sama, tergesa pula dengan ketegangan yang semurna, terselip mandau-mandau ber-simpai prajurit dan jelata : semuanya waspada…

“Semoga saja Bapan[3] Pendi sudah menghubungi Damang-Damang[4] Katingan” ujar pria dengan mandau ber-simpai panglima memecah kebekuan.

“Ya, semoga saja. Tapi bagaimana dengan Damang-Damang Kahayan, Sebangau, Arut serta lainnya?” salah seorang dari lima pria dengan mandau ber-simpai prajurit menanggapi setengah berbisik.

“Entahlah, Mungkin nanti akan kita bahas di Balai[5]” jawabnya ringkas. Suasana kembali tegang, yang terdengar hanya derap langkah terburu-buru enam pria berikat kepala merah dengan mandau dimasing-masing pinggangnya.

Baca entri selengkapnya »

Menurut kisah ibuku aku dilahirkan dengan tanda camar banyu1. Masih menurut ibu, yang melahirkan dengan tanda itu tidak merasakan penderitaan sebagaimana biasanya saat wanita kebanyakan melahirkan, “rasanya cuma mules, seperti ingin buang air besar” begitu katanya. Jika dibanding dengan tanda camar beruang2 “pinggang ini seperti dicincang-cincang” lanjut ibu dengan ekspresi yang cukup membuatku ngilu.

Beruntunglah tidak kutambah lagi beban ibu dengan kelahiran yang menyakitkan, setelah sembilan bulan sembilan hari mengandungku Wahnan ‘ala wahnin3. Bisa jadi kelahiranku yang “mulus” itulah yang menyebabkan ibu agak pilih kasih dengan saudara-saudarku yang lain, dengan memberikan ASI ekstra selama tiga tahun. Sementara kakak serta adikku tak lebih dari dua tahun mengecap hangat, harum dan manis air susu ibu.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara, kakaku seorang perempuan begitu pula adikku. Maka statusku adalah pria nomor dua dalam keluarga, setelah ayah tentunya. Menurut Pak Cokro tetangga kami yang orang Jawa itu, posisiku dalam silsilah adik-beradik dalam hitungan kejawen dikenal dengan istilah Pancuran di apit Sendang4, menurut beliau karir yang cocok untukku adalah menjadi seorang dalang, “laris manis pokoke Ghuuus” selorohnya dengan semangat. Tak lupa disisipkan cerita tokoh “perdalangan” di tanah Jawa yang terkenal di seluruh Nusantara, salah satunya adalah figur dalang yang membintangi iklan obat sakit kepala : bah! Siapa pula yang mau jadi dalang!!??

Baca entri selengkapnya »

acuh

22 Januari 2009

Andai sepintas saja
kau mau melirikan mata
biar aku yakin :
kalau aku memang ada

Sungguh…
tak tertafsir dengan kata
betapa aku malu :
menjaja senyum ke parasmu

lama kutunggu
ah, ternyata memang tidak ada
(dia kan cuma tebar pesona…)

keceplosan

21 Januari 2009

Saat terkuak kisah padang ilalang
rautmu menampar tanda cemburu
lebih baik aku diam

Aku tau hatimu tak seperti itu
hanya agar terlihat sayang di mataku
makanya aku diam

Sungguh masa lalumu enggan kutau sebab itu menyakitkan
kau paksa agar aku mencari tau
diamku kian diam

Apa untungnya buat hatiku?
kalau saja kau tau
aku yakin kaupun akan diam

sungguh, tadi aku tak sengaja….

ini tentang hitam
biar saja kelam
jika biru hempaskan di lantai kaca
jingga membakar jingga
hitam diam saja
biru tertawa
lantai kaca dihempaskan
jika jingga tentang kelam
biar saja hitam diam

biru jika hitam
biar jingga di lantai kaca
jika hitam tentang diam
biru saja membakar kelam
……..
……..

ini tentang hitam
ini tentang biru
ini tentang jingga
ini tentang kelam

biar saja diam
biar saja hempaskan
biar saja lantai kaca
biar saja tertawa