Saatnya Untuk Bangun

22 Agustus 2011

Dua tahun ternyata bukan waktu yang sebentar untuk vakum mengupdate blog lusuh ini. Hingga akhirnya berapa minggu yang lalu saya bernostalgia menjadi blogwalker dan bertemu penulis yang dalam ukuran saya cukup “mengairahkan”. Sebut saja Rusnani Anwar namanya. Walau blognya masih minim pembaca tapi konsistensinya dalam menulis sungguh saya acungi jempol (empat jempol yang saya punya). + 200 posting dalam kurun waktu dua tahun dengan tema beragam akhirnya meluluhkan kemalasan saya dalam menulis. Perempuan 19 tahun ini punya talenta menata bahasa yang indah dan cerdas, pandangan-pandangannya di luar kebiasaan gadis seumurannya, bahkan bagi saya sekalipun materi yang diungkapnya sebagian besar bertema berat (atau saya yang memang bodoh :D).

Tidak dengan maksud memuji secara berlebihan, sebab tidak saya pungkiri kalau penulis yang hebat itu banyak. Ini hanya wujud dari bagaimana saya mentertawakan diri sendiri. Dimana dengan hanya menulis beberapa postingan dalam dua tahun terakhir saya sudah mengaku ke sana kemari kalau saya ini adalah sastrawan, lalu dengan bangganya memamerkan rencana novel yang tak jadi-jadi. Tidak ada kata yang lebih tepat selain mengakui kalau saya memang pemalas, banyak alasan dan sedikit congkak. Dan gadis 19 tahun itu yang akhirnya membuktikan kalau saya bukanlah apa-apa.

Sepertinya selama ini saya tidak sadar kalau saya ketiduran.

Iklan

Besok Aku Pulang…

16 Oktober 2009

jenuhku seperti cawan yang penuh racun
resap di tubuh dan terlanjur susah diuraikan
semoga hanya dengan resep mantri di kampung nanti
mampu menyembuhkanku

sungguh…
aku ingin pulang

Sebenarnya tulisan ini berangkat dari diskusi-diskusi via sms dengan seorang sahabat yang (demi langit dan bumi saya bersumpah) sangat saya sayangi (jangan GR dolo bro…) sebab sedikit banyak beliau adalah sumber inspirasi saya sejak muda dulu sampai muda lagi saat ini hehehehe.

Ada baiknya saya mulai dengan latar belakang sahabat saya satu ini agar teman-teman pembaca yang budiman mendapat titik terang dengan tulisan saya selanjutnya.

Beliau lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat berkecukupan (menurut standar saya) sebab ayahnya adalah salah seorang pengusaha sukses di Banjarmasin. Tapi entah setan dari mana yang membisikinya untuk menjadi seorang pemberontak dan memilih kehidupan menjadi seorang seniman yang notabene (kebanyakan) jauh dari kemapanan sebagaimana orangtuanya…

Hal tersebut dibuktikan dengan melanjutkan pendidikannya di fakultas senirupa jurusan seni lukis sebuah institut seni di kota Jogja. Memilih lukis sebab katanya beliau memang suka mengambar sejak kecil. Yang saya ingat sejak SMP beliau sudah bisa membuat komik, lengkap dengan alur ceritanya. Sungguh fantastis menurut saya waktu itu. Bahkan kegandrungannya akan seni semakin menjadi-jadi menginjak SLTA dengan mulai merambah dunia teater, dan sastra.

Namun disebabkan suatu dan lain hal komunikasi kami terputus, sebab saya harus pindah kota ikut orang tua. Lebih kurang 10 tahun lamanya tidak pernah lagi saya mendengar beritanya. Kabar terakhir yang saya dengar ternyata beliau telah menjadi seorang pengusaha advertising dan percetakan di kotanya.

Hati kecil saya bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi dengan pemberontak kebanggaan saya itu? hingga melompat begitu jauh dari idealismenya dari ingin menjadi seniman, ujung-ujungnya pengusaha juga.

Dan yang semakin membuat saya terpana sekaligus bertambah bangga, beliau ternyata telah menerbitkan 2 buah buku kumpulan puisi yang menurut saya tak pernah terbayangkan sebelumnya. Walau sebenarnya beliau suka menulis puisi, tapi hanya di kertas-kertas lusuh sisa tugas sketsanya.

Singkat cerita, 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar berpisah. Itulah yang membuat inisiatif untuk mencari dan mencari bagian kenangan masa lalu saya. Akhirnya pada pertengahan Mei 2008 lalu saya temukan lagi kepingan masalalu saya (hhhhhh… lapah jua ngetik ni rupanya…). Komunikasi kamipun berjalan lagi, walau hanya via sms atau saling berbalas komentar di blog masing-masing (maklum blogger mania debutan hehehehe).

Sms terakhir kami adalah membahas penulis-penulis dari Kalsel yang menurut kami kurang gaungnya dipentas penerbitan buku Nasional. Padahal secara kualitas dari blog-blog penulis Kalsel yang saya jelajahi, tulisan-tulisannya memberikan nuansa yang sama saat membacanya dengan penulis-penulis ternama, baik energi maupun emosi (menurut versi saya) kurang lebih antara lain:
1. ENIGMA : http://hudannur.blogspot.com dapat saya sandingkan dengan SUPERNOVA (Dewi ‘dee’ Lestari) yang mengangkat genre fiksi ilmiah futuristik.
2. SOGNANDO PALESTINA : http://taufik79.wordpress.com dapat saya sandingkan (bahkan) dengan THE KITE RUNNER (Khaleed Hosseini) walau dengan genre berbeda tapi energi serta emosi yang saya keluarkan sama persis sebab saya cuma punya referensi itu buat perbandingannya hehehehe…
3. Saya berharap bisa membaca JAZIRAH CINTA karya Randu Alamsyah berharap-harap energi serta emosi yang saya rasa saat membaca AYAT-AYAT CINTA saya temui disana. (syukur-syukur amun dibari gratisan)

Kemudian salah satu puisi sahabat tercinta yang saya culik dari blognya sungguh membuat saya merenung :

RADIN PANGANTIN* DIHADAPMU

(Hajriansyah)

Maka, Ibu:
Kuingat lagi jejakmu yang tersipu
Di bekasnya aku menunggu,
Sungguh bunga-bunga bermekaran
Di sana;
Kuingat lagi buaianmu yang rindang
Di masa kecil ditimang-timang
Dan benar, tumbuh aku dan berkembang
Terbang dianginkan kasihmu.
Maka, jika hari ini aku
Bagai radin pangantin
Yang melupakanmu, sungguh
Ampuni aku!
Di matamu,
Di senyummu aku hanya debu
Tersapu jauh ke ujung laut
‘kan kubawa benua indah ke tanganmu
Ke tanganmu, tebusan bagi kefanaanku
Di hadapanmu.

Ramadhan, 2008

*radin pangantin : legenda serupa malin kundang dari kalimantan selatan

Membaca 3 bait terakhir cukup membuat saya langsung sms ibu saya tercinta (serius ni wal ai..). Yang saya bayangkan adalah, jika puisi itu dibaca orang se-Indonesia Raya kira-kira berapa banyak yang akan dibuat bertaubat mencium kaki ibunya? minimal sms seperti yang saya lakukan…. (ente kada pernah tebayang lo bro, puisi ente bisa bikin orang tobat?)

Berangkat dari situ saya tanyakan kepada sahabat saya tercinta, yang intinya “sebagai pengusaha kenapa tidak mencoba menggebrak pasar penerbitan indonesia dengan potensi SDM-SDM dengan bakat brilian seperti teman-teman penulis dari Kalsel? Beliaupun menjawab (ringkasnya saja):
sms 1
“Penulis kita banyak, kita tidak terlihat di mainstearam, karena masalah publikasi yang berhubungan dengan isi pembicaraan/karya kita yang kurang update, ini berhubungan lagi dengan daya baca kita dan sistem distribusi perbukuan di daerah yang kurang bagus. Komplekslah! Makanya kita mulai dengan pemahaman yang baik…dst

sms 2
Ya, ini masih memikirkan bagaimana bisnis dan idealisme dari penerbitan buku bisa berjalan saling bersinergi…dst

Dua sms itu membuat saya terpanggil kemudian mencoba menyimpulkan bahwa yang jadi permasalahan antara lain :
1. Masalah publikasi dan materi yang tidak update
2. Daya baca dan sistem pendistribusian
3. Sinergi antara bisnis dan idealisme

Setelah berpikir agak lama akhirnya saya mencoba menganlisa paradigma-paradigma diatas yang saya coba bandingkan fenomenanya secara pragmtis. (halah!!! paragah…)

Sampel yang saya gunakan adalah novel yang konon menggemparkan nusantara karya “bang” Andrea Hirata : “Tetralogi Laskar Pelangi” ENG..ING..ENG..!!!!
(saya pakai istilah “bang” selain beliau memang lebih tua saya, juga penggemar berat karya-karyanya sekaligus sama-sama pecinta H. Rhoma Irama….ups)

PUBLIKASI DAN UPDATE MATERI
Ada satu buku ilmu pemerintahan yang pernah saya baca sepintas (karena saya tidak terlalu tertarik dengan politik..) yaitu “CONFLICT MANAGEMENT”. Gamblangnya, salah satu sub materinya adalah tentang “Issue Management” (ini kerjaan tukang gosip, provokator, dll..). yang saya tangkap dari sana adalah bagaimana isu merupakan alat, salah satu isinya : “dalam upaya menggerakkan massa, kelompok atau masyarakat diperlukan penyebaran ISSUE (baca :isu)”. Manajemen Bentang selaku penebit “Tetralogi Laskar Pelangi” telah sukses mengaplikasikan teori tersebut dengan menebar isu bahwa :

“Andrea hirata adalah seorang yang berlatar belakang Economic Science dan mempelajari sastra secara otodidak namun tulisannya melakukan pendekatan berbeda sehingga merobohkan mitos dalam ranah sastra maupun industri buku di Indonesia, yang dapat memadukan aspek sains, sosiologi orang melayu, dan edukasi…dst”

Manajemen Bentang meng”isu”kan seorang yang berlatar belakang pendidikan ekonomi bisa bersastra secara memukau dengan metode yang lain daripada yang lain.

(begitu menurut pemahaman saya).

Sementara dari kenyataan yang saya alami dari pergaulan teman-teman melayu baik Sumatera, Pontianak, Banjamasin maupun tempat saya sendiri (melayu Pangkalanbun), dalam bahasa percakapan sehari-haripun selalu menonjolkan kiasan-kiasan sehingga memperindah untaian kata-katanya. Apapun latar belakang mereka entah dokter, tentara, camat, polisi, orang tua maupun muda bahasa yang digunakan pastinya berkias-kias. Artinya “bang” Andrea Hirata sudah mengerti sastra melayu sejak masih dalam rahim, sebab ayah dan ibundanya kan orang melayu tulen beliau pun di besarkan dengan budaya melayu hehehe. (otomattiss)

Menurut anda kira-kira apanya yang istimewa? menurut saya sih hanya kemampuannya menuliskan apa yang beliau dengar dan ucapkan sejak kecil dengan membumbui sedikit imajinasi serta pesan-pesan semangat menuntut ilmu. Adapun adanya unsur sains karena beliau adalah seorang akademisi sesuai dengan misinya tentang semangat belajar.

Dan saya melihat potensi itu semua dimiliki oleh teman-teman penulis di Kalimantan Selatan, tinggal diperlukan adalah media edifikator (bukannya provokator) yang mampu menebar isu positif yang anda inginkan sebagaimana yang dilakukan oleh Manajemen Bentang.

Jika saya jadi seorang edifikator buat sahabat saya (dan sudah saya lakukan di atas tadi), maka bentuk edifikasi saya :

“Anak seorang pengusaha sukses yang memberontak ingin menjadi pelukis dan terjerumus dalam dunia sastra menurut versinya sendiri, mengabaikan pakem-pakem sastrawi dengan memadukan antara puisi-puisi, esai-esai, cerpen, lukisan dan percetakan sekaligus!!!”

HAH!!! luar “binasa” bukan?? dan saya tidak berdusta kan?? itulah isu positif yang saya maksud. (dah dipadahi jangan himung dolo ente bro…)

MATERI TIDAK UPDATE
Menurut saya dalam dunia ini berkisar tentang itu-itu saja antara cinta, permusuhan, persahabatan, kemanusiaan, perjuangan, perselisihan, politik, teknologi, dsb. yang semuanya “tidak pernah tidak update”. (silahkan klo ente mau berpolemik soal ini…(padahal ana tekutan, IQ ente kan jauh di atas ana, bisa dilihat dari perbandingan NEM2 kita bro, coba liati mun kada percaya hehehehe))

DAYA BACA
Hasil riset saya mengatakan, beberapa teman kuliah yang awalnya alergi terhadap buku bahkan komik sekalipun, sampe nyari-nyari pinjaman bukunya akibat termakan “isu” yang disebar Manajemen Bentang tersebut, apalagi yang emang benar-benar doyan buku… iya toh?? (tooooh…) iya kan? (kaaaaan…).

PENDISTRIBUSIAN
Dari hasil wawancara dengan seorang pegawai gudang di toko buku terkemuka di Bandung, mereka sering “ngemis-ngemis” kepada penerbit biar cetak ulang lagi Laskar Pelangi sebab stock mereka sudah menipis.

SINERGI ANTARA BISNIS DAN IDEALISME
Dari situs resmi “bang” Andrea Hirata yang pernah saya baca, idealisme beliau adalah menjadikan sastra melayu belitong sebagai salah satu bentuk apresiasi anak melayu dalam upaya meramaikan kancah kesusastraan di Indonesia tercinta ini, dan apa yang beliau raup dari itu? Kepuasan batin dan kepuasan dompet tentunya.
Intinya :
Idealisme = non profit oriented, bersinergi dengan
Bisnis = pure profit oriented

PENUTUP
Sebagai penutup saya mencoba mengambil contoh semangat perjuangan Denaya Lesa dari blog http://randualamsyah.wordpress.com yang mana Denaya begitu gencar memperjuangkan rumus ciptaan ayahandanya tercinta dengan mempromosikan dan berdebat di situs-situs matematika maupun komunitas blogger matematika mancanegara. Dan yang membuat bangga Denaya hanyalah gadis belia, baru SMP kelas 2 yang sudah hafal teorema-teorema phytagoras diluar kepala, dan dia adalah “asli” anak Indonesia.

Dan semangat itu ingin saya tularkan kepada penulis-penulis Kalimantan selatan agar mencoba menghembuskan isu-isu positif anda, minimal dengan cara yang sama seperti Denaya, berjuang dalam dunia yang katanya maya ini, agar penulis-penulis Kalsel tercium di se-antero Nusantara.

Tulisan ini semata-mata karena kecintaan saya kepada seorang sahabat yang menjadi sumber inspirasi saya, kepada “Lintang” yang menumbuhkan kembali semangat belajar saya, kepada sungai Martapura yang lebih kurang 15 tahun turut mengaliri dinadi-nadi saya.

Saya yakin semua yang teman-teman tuliskan di lembar-lembar itu semuanya keluar dari hati, oleh sebab itu sayapun membacanya dengan hati pula. Saya harap teman-teman membaca permintaan hati saya ini dengan hati yang lapang dada lalu berkata “ya saya bisa”.

Salam Sastra, Salam Budaya, Salam Penulis Kasela (Bukan Ian “Radja” Kasela lah…)

Bandung, 19/01/2009