Kutitip rindu di riam-riam, di batu-batu
Entah berapa tanjung sudah dilewati
Entah berapa talok disusuri
Pasti kupetik
Satu-persatu saat pulang nanti

Kata ayah;
“Pabila jala sudah dilempar-jikalau sangkut-maka haram tak diselami”

Seorang berkata;
“Pabila rindu sudah ditebar-jikalau pisah- maka haram tak didendami”

Akan kubawa pulang beribu rindu dan sejuta dendam padamu
Yang kutitip di riam-riam, di batu-batu

Diantara riuhnya Riam Mangkikit DesaTumbang Kalemei, 7 Mei 2016

image

Iklan

Melarung Kisah

15 April 2016

Perempuan dengan mata tak terbaca
Melarung kisah di ulak-ulak kuala
Seperti terhapus dalam riuh keruhnya yang pekat, seraya berkata “terurailah, lalu menguap dan menjadi kisah baru lagi… Ya, semudah itu”
Riang tawanya dengan kerling yang masih juga tak dapat dieja-eja
Entahlah, hidup inipun jauh lebih misteri dari gelap dan derasnya ulak kuala…

***
Ulak : Arus sungai yang mengembul-ngembul dan bergulung-gulung

Kuala : Muara Sungai

Perempuan Sungai Katingan

2 Februari 2009

I

Mengupas senja di sudut hari yang semakin renta saja
Menekuni bait-bait Ilahi di Surau yang juga mulai menua
Ah, apakah sudah terlalu jauh untuku pulang ke rumah
Seperti Surau itu akupun mulai menua
Seperti senja ini akupun semakin renta saja

Di hulu sana menggelora ulak kuala
Membawa hanyut ratik meranti
Sungai-sungai pasang membala
Semoga surut esok pagi

Sungguh wangi sayur humbutmu
Direbus kaldu kesetiaan
Tak tertepis merindukanmu
Perempuan Sungai Katingan

Semoga dapat kulupakan
II

Seraut wajah berisi kegetiran hati
Beranjak lelap dengan kecewa
Jauh memandang ke ufuk mimpi
Tidak pula pagi menjelma :
Lelakikah rumah singgah saat lelah?

Aku tak mampu bicara cinta
Sungguh…
Bukan berarti hatiku masih tertinggal di masa lalu
Saat ini dan sampai nanti, pasti kutitipkan rindu-rinduku

Tapi apa yang kau terima?
Dariku hanya malumu
Dariku hanya sedihmu
Dariku kehampaanmu
Tak cukupkah agar kau benar-benar menjauh?

Akupun terlalu mencintaimu

acuh

22 Januari 2009

Andai sepintas saja
kau mau melirikan mata
biar aku yakin :
kalau aku memang ada

Sungguh…
tak tertafsir dengan kata
betapa aku malu :
menjaja senyum ke parasmu

lama kutunggu
ah, ternyata memang tidak ada
(dia kan cuma tebar pesona…)

keceplosan

21 Januari 2009

Saat terkuak kisah padang ilalang
rautmu menampar tanda cemburu
lebih baik aku diam

Aku tau hatimu tak seperti itu
hanya agar terlihat sayang di mataku
makanya aku diam

Sungguh masa lalumu enggan kutau sebab itu menyakitkan
kau paksa agar aku mencari tau
diamku kian diam

Apa untungnya buat hatiku?
kalau saja kau tau
aku yakin kaupun akan diam

sungguh, tadi aku tak sengaja….

ini tentang hitam
biar saja kelam
jika biru hempaskan di lantai kaca
jingga membakar jingga
hitam diam saja
biru tertawa
lantai kaca dihempaskan
jika jingga tentang kelam
biar saja hitam diam

biru jika hitam
biar jingga di lantai kaca
jika hitam tentang diam
biru saja membakar kelam
……..
……..

ini tentang hitam
ini tentang biru
ini tentang jingga
ini tentang kelam

biar saja diam
biar saja hempaskan
biar saja lantai kaca
biar saja tertawa

rining…

18 Januari 2009

serasa masih semalam
seperti dipelupuk mata
masih wangi bedakmu mengaroma
dalam senyum dan diam

banyak kisah tertinggal
di daun-daun
di riak-riak
di kuala-kuala

sesal apa atas mimpi yang kutangguhkan sendiri
mengadu pada siapa kiranya penyesalan hati
sebab tak mungkin pesisir kampung itu masih sama seperti dulu
pastinya rindu itupun tak lagi untukku

banyak kisah tertinggal
di riak-riak
di kuala-kuala
dalam senyum dan diam