Saat yang dinanti-nanti (2)

Belum genap Damang Samuda memutar ulang kenangan tentang sahabatnya, tergopoh-gopoh salah seorang pemuda pengikut Ledit masuk kedalam Balai.

“Mereka sudah datang damang, sekitar tiga atau empat puluh orang pemuka adat beserta ratusan pengikut, juga ada tokoh masyarakat lainnya” pemuda itu melaporkan.

“Baik, persilahkan mereka masuk” perintah Damang Samuda.

Tak lama, berbondong-bondonglah para tokoh pemuka dan Damang itu memasuki ruang Balai sembari bersalam-salaman dan memperkenalkan diri, lalu mengambil tempat duduk untuk bersila. Turut pula seorang Basir Upu dari Tumbang Malahoi yang memang sengaja diundang Damang Samuda untuk memimpin doa dalam acara Pakat kali ini. Dari sekian tokoh dan Damang yang datang, hadir juga dua orang utusan dari Kesultanan Kotawaringin1 dan beberapa Damang dari sepanjang Sungai Arut dan Lamandau.

Setelah berkumpul Damang Samuda memberi sambutan singkat dan sederhana lalu mempersilahkan para basir untuk memulai balian yang di pimpin oleh Basir Upu dan didampingi sepasang Basir Pangapit kembar. Diawali dengan membacakan Tawur2 dengan bahasa Sangiang3 sang Basir melakukan dengan penuh khidmat. Nuansa magis terasa begitu kental dengan paraprin4 yang mengepulkan aroma dupa, ditambah alunan doa-doa penuh metafora dari sang Basir, membuat semua yang hadir seakan tak sanggup beranjak dari tempatnya bersila.

Di luar, elang-elang masih terbang berputar mengitari atap Balai Kampung Samuda di bawah sinar rembulan, seakan-akan turut mengawasi jalannya upacara. Pengikut para Damang yang datang pada malam itu berjumlah hampir dua ratus orang, duduk tekun tak kalah khidmat mengikuti ritual di luar Balai, seperti elang-elang di angkasa mereka tetap waspada.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Kalau kita bicara soal Bandung tentu ingatan kita mengatakan “Oh iya, Paris Van Java, Tanah Pasundan, kota Parahiyangan, Halo-Halo Bandung” atau paling tidak kita ingat makanan khasnya: “peyeum”. Tak pernah terbayang sebelumnya, ternyata aku bisa ke sini juga setelah sekian lama “sunda” menjadi mimpi dan cita-cita.

Obsesi tersebut berawal dari saat aku nonton film “Si Kabayan” (Didi Petet) yang polos, tulus, cerdik, juga beruntung. Tapi yang bikin aku mabuk kepayang adalah sosok “Nyi Iteung” (Nike Ardila) yang tak kalah polos, ramah, manja tapi tulus, tidak matre, cantik pula. Tentu perempuan sempurna menurut standar gadis idamanku.

Saking tergila-gilanya dengan “Nyi Iteung”, apapun kupelajari tentang kultur budayanya. Baik dari segi bahasa walau hanya sekedar dialek belaka, dari lagu-lagunya walau aku tidak benar-benar tau apa terjemahannya Manuk Dadali dan Es Lilin yang sempat kuhafal waktu itu. Kemudian kesenian wayang golek si Cepot yang bikin aku terpingkal-pingkal tertawa.

Baca entri selengkapnya »

Saat yang dinanti-nanti (1)

Bukan hutan saja yang dijarah oleh para pembalak itu. Ganasnya raung mesin-mesin gergaji, bandsaw-bandsaw, chainsaw-chainsaw yang turut mereka dirikan berdengung bising kian memadati bantaran sungai, membiak seperti cendawan di musim hujan, mengabaikan perjanjian untuk secara eksis menjaga pukung-pahewan[1] sebagai aset cadangan bagi masyarakat Dayak. Sungai turut digerus pula, dengan melemparkan racun-racun ramin, air raksa, mercury, putas[2] dan zat bebahaya lainnya ke dalam sungai.

Entah sampai mana masyarakat Dayak harus terus mengalah menyikapi ekspansi yang semakin menggila ini? Hutan, sungai, udara, tidak lagi sebagai sahabat atau sumber hidup dan kehidupan yang dapat menyokong orang-orang Dayak.

Para pendatang itu mulai “ngelunjak”, sebab selama ini masyarakat Dayak memang selalu dengan tangan tebuka menerima kedatangan orang asing. Budaya menghormati tamu merupakan suatu keharusan bagi masyarakat Dayak, dalam artian pendatang asing wajib dijaga dan dilindungi selama mengikuti aturan yang berlaku. Adalah hal yang “memalukan” apabila ada pendatang yang masuk ke wilayahnya, kemudian pendatang tersebut kesusahan atau menderita. Seperti dalam upacara Tiwah misalnya, bagi para pendatang selalu disediakan Balai Hakey[3] oleh masyarakat setempat sebagai tempat bagi dingsanak tuha[4] atau pendatang lain yang beragama Islam.

Seiring perkembangan jaman, budaya toleransi ini selalu dipegang teguh oleh masyarakat Dayak. Tapi ada segelintir pendatang yang bertandang tapi malah merusak tatanan budaya suku Dayak dengan memanfaatkan keterbukaan serta keluguan masyarakatnya, dengan mencuri, merampok, menipu, membunuh, bahkan memperkosa. Sebab semua itu merupakan hal tabu yang pantang dilakukan oleh orang Dayak.

Pada awalnya semua dapat diselesaikan dengan musyawarah, perjanjian adat atau kesepakatan antara pihak yang bermasalah. Perjanjian tinggal perjanjian, para pendatang selalu melanggar dan melanggar lagi. Sementara perjanjian adalah hal yang sakral dalam kebudayaan Dayak, sebab setiap perjanjian atau kesepakatan bukan hanya disaksikan oleh manusia saja, tapi juga oleh Rayaning Hatala Langit[5].

*********************

Malam semakin larut, menebarkan kegelisahan penantian keputusan pakat [6]yang harus segera diambil. Membuat masing-masing pikiran sekelompok orang di dalam balai itu mulai merunut satu-persatu, memilah-milah apa sekiranya yang terbaik bagi mereka nantinya.

Di luar bulan separuh bersinar redup, tertutup awan-awan berwarna kelam seakan pertanda akan terjadi lagi peristiwa suram[7] dalam sepanjang sejarah petak-danum[8] Pulau Begawan Bawi Lewu Telu[9] ini. Akankah Pakat Dayak dan Damang Tumbang Anoi[10] akan di langgar oleh suku Dayak sendiri?

Secara misterius sekelompok burung elang terbang malam berputar-putar membentuk sebuah lingkaran di langit sekitar balai Kampung Samuda.

Baca entri selengkapnya »

Pria bergelar Panglima Api ini jika dilihat dari perawakannya tidaklah istimewa, sosok lelaki berusia tak lebih empat puluh tahun dengan wajah sebagaimana orang Dayak pada umumnya. Bermata sipit, rambut lurus sekilas hampir sama dengan orang mongolia, hanya saja aura magis yang terpancar darinya dapat membuat layu apapun yang dilewatinya, kendati tak pernah lepas sekilas senyum dari sudut bibirnya.

Tak ada sebilah mandaupun terselip di pinggangnya, hanya ikat kepala berwarna merah yang menandakan dia adalah seorang pejuang Dayak. Konon cerita, Panglima Api memiliki mandau gaib yang dapat diambil kapan saja dari tato yang tergambar di dadanya. Mandau ini pula yang digunakan sebagai alat transportasi dengan cara berdiri di atas mandau tersebut : Mandau Terawang[1]!!

Panglima Api jarang sekali menggunakan mandau sebagai senjata, sebab tugasnya adalah seorang Pemapui[2]. Dengan keahlian yang tidak dimiliki semua pejuang Dayak itu, dia dapat membakar apapun dengan sekali tiup atau meludah saja. Bahkan anehnya yang terbakar hanyalah sasaran yang dituju saja, tanpa mengenai sekelilingnya, rumput sekalipun.

“Ini adalah Nyai Tewang Kampung dari Kampung Tewang, disebelahnya adalah sepasang Basir[3] kembar dari Tumbang Mentangai, Tambang dan Tambing, dan di seberang itu adalah Ledit putra mendiang Damang Penda Mentaya beserta lima orang pengikutnya” Damang Samuda memperkenalkan satu-persatu tamunya.

“Hmmm, tak kusangka akhirnya dapat bertemu dengan para pesohor Dayak Kalimantan Tengah beserta keturunannya” puji Panglima Api seraya mengangkat gelas baramnya tanda bersulang.

“Kukira sosok ngayau wanita dan sepasang basir pangapit kembar hanyalah kabar angin belaka” ujarnya menambahkan. Diamini ketiganya dengan anggukan hormat.

Baca entri selengkapnya »

Dalam pekat malam berjalan tergesa seorang pria berikat kepala merah, di pinggangnya terselip sebilah mandau bercorak simpai[1] panglima pada kumpang[2]nya. Di belakang mengikuti lima orang pria dengan ikat kepala yang sama, tergesa pula dengan ketegangan yang semurna, terselip mandau-mandau ber-simpai prajurit dan jelata : semuanya waspada…

“Semoga saja Bapan[3] Pendi sudah menghubungi Damang-Damang[4] Katingan” ujar pria dengan mandau ber-simpai panglima memecah kebekuan.

“Ya, semoga saja. Tapi bagaimana dengan Damang-Damang Kahayan, Sebangau, Arut serta lainnya?” salah seorang dari lima pria dengan mandau ber-simpai prajurit menanggapi setengah berbisik.

“Entahlah, Mungkin nanti akan kita bahas di Balai[5]” jawabnya ringkas. Suasana kembali tegang, yang terdengar hanya derap langkah terburu-buru enam pria berikat kepala merah dengan mandau dimasing-masing pinggangnya.

Baca entri selengkapnya »

Menurut kisah ibuku aku dilahirkan dengan tanda camar banyu1. Masih menurut ibu, yang melahirkan dengan tanda itu tidak merasakan penderitaan sebagaimana biasanya saat wanita kebanyakan melahirkan, “rasanya cuma mules, seperti ingin buang air besar” begitu katanya. Jika dibanding dengan tanda camar beruang2 “pinggang ini seperti dicincang-cincang” lanjut ibu dengan ekspresi yang cukup membuatku ngilu.

Beruntunglah tidak kutambah lagi beban ibu dengan kelahiran yang menyakitkan, setelah sembilan bulan sembilan hari mengandungku Wahnan ‘ala wahnin3. Bisa jadi kelahiranku yang “mulus” itulah yang menyebabkan ibu agak pilih kasih dengan saudara-saudarku yang lain, dengan memberikan ASI ekstra selama tiga tahun. Sementara kakak serta adikku tak lebih dari dua tahun mengecap hangat, harum dan manis air susu ibu.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara, kakaku seorang perempuan begitu pula adikku. Maka statusku adalah pria nomor dua dalam keluarga, setelah ayah tentunya. Menurut Pak Cokro tetangga kami yang orang Jawa itu, posisiku dalam silsilah adik-beradik dalam hitungan kejawen dikenal dengan istilah Pancuran di apit Sendang4, menurut beliau karir yang cocok untukku adalah menjadi seorang dalang, “laris manis pokoke Ghuuus” selorohnya dengan semangat. Tak lupa disisipkan cerita tokoh “perdalangan” di tanah Jawa yang terkenal di seluruh Nusantara, salah satunya adalah figur dalang yang membintangi iklan obat sakit kepala : bah! Siapa pula yang mau jadi dalang!!??

Baca entri selengkapnya »