Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (4)

12 Februari 2009

Saat yang dinanti-nanti (2)

Belum genap Damang Samuda memutar ulang kenangan tentang sahabatnya, tergopoh-gopoh salah seorang pemuda pengikut Ledit masuk kedalam Balai.

“Mereka sudah datang damang, sekitar tiga atau empat puluh orang pemuka adat beserta ratusan pengikut, juga ada tokoh masyarakat lainnya” pemuda itu melaporkan.

“Baik, persilahkan mereka masuk” perintah Damang Samuda.

Tak lama, berbondong-bondonglah para tokoh pemuka dan Damang itu memasuki ruang Balai sembari bersalam-salaman dan memperkenalkan diri, lalu mengambil tempat duduk untuk bersila. Turut pula seorang Basir Upu dari Tumbang Malahoi yang memang sengaja diundang Damang Samuda untuk memimpin doa dalam acara Pakat kali ini. Dari sekian tokoh dan Damang yang datang, hadir juga dua orang utusan dari Kesultanan Kotawaringin1 dan beberapa Damang dari sepanjang Sungai Arut dan Lamandau.

Setelah berkumpul Damang Samuda memberi sambutan singkat dan sederhana lalu mempersilahkan para basir untuk memulai balian yang di pimpin oleh Basir Upu dan didampingi sepasang Basir Pangapit kembar. Diawali dengan membacakan Tawur2 dengan bahasa Sangiang3 sang Basir melakukan dengan penuh khidmat. Nuansa magis terasa begitu kental dengan paraprin4 yang mengepulkan aroma dupa, ditambah alunan doa-doa penuh metafora dari sang Basir, membuat semua yang hadir seakan tak sanggup beranjak dari tempatnya bersila.

Di luar, elang-elang masih terbang berputar mengitari atap Balai Kampung Samuda di bawah sinar rembulan, seakan-akan turut mengawasi jalannya upacara. Pengikut para Damang yang datang pada malam itu berjumlah hampir dua ratus orang, duduk tekun tak kalah khidmat mengikuti ritual di luar Balai, seperti elang-elang di angkasa mereka tetap waspada.

Acara doa ditutup dengan menaburkan beras kuning ke segala penjuru oleh para Basir dengan keyakinan Rayaning Hatalla Langit telah merestui acara Pakat malam ini.

Setelah benar-benar dinyatakan selesai Damang Samuda mulai angkat bicara.

Pahari-pahari sekalian yang saya hormati. Berangkat dari kenyataan yang terjadi bahwa para pendatang dari tanah seberang itu mulai menggila. Maka saya mengambil inisiatif mengumpulkan para Damang untuk meminta pendapat saling berurun rembuk sebagaimana kebiasaan para leluhur kita, tindakan apa sekiranya yang harus kita ambil menyikapi kejadian ini?”

“Sungguh, batin saya sudah tidak bisa lagi menerima perlakuan mereka terhadap suku kita, sementara selama kita menyambut kedatangan mereka dengan tangan dan hati yang terbuka, dengan berbagi lahan pertanian, berbagi pekerjaan, serta berbagi hidup dan kehidupan” lanjut Damang Samuda.

“Seperti yang terjadi pada minggu kemarin, silahkan pahari-pahari bayangkan dan turut membayangkan. Salah seorang keponakan mendiang suami Nyai Tewang Kampung tewas menggenaskan dengan jasad yang tidak dapat dikenali lagi setelah diseret hidup-hidup menggunakan motor oleh mereka yang selama ini kita anggap sebagai bagian dari keluarga. Hanya karena masalah sepele, bahwa keponakan Nyai Tewang itu mengajak seorang anak gadis berjoget di acara hiburan pernikahan” mulai bergetar suara Damang Samuda.

Mata para tamu tertuju ke arah Nyai Tewang Kampung yang mulai meneteskan air mata tapi dengan tatapan yang penuh dendam. Sungguh, betapa pedih hatinya…

Para peserta pakat mulai bergumam, saling berbisik, menggerutu, tak berani mengumpat nyaring sebab yakin Sang Ranying Hatalla sedang menyaksikan mereka saat itu, hanya dipendam di hati saja segala amarah, segala murka.

“Dari pihak keluarga korban telah mengajukan singer adat5 atas kejadian tersebut empat hari yang lalu, tapi mereka menolaknya mentah-mentah dan menyatakan siap berperang andai pihak keluarga korban tidak terima” mulai sesak dada Damang Samuda.

“Bukankah adat istiadat kita junjung di atas kepala? Tapi mereka dengan sengaja melalaikan ketentuan yang kita yakini turun temurun, setelah apa yang mereka lakukan terhadap pemuda dari suku kita. Itu sama artinya mereka meremehkan adat istiadat yang kita junjung di kepala, dan kepala sebagai lambang kehormatan tertinggi manusia…” gemeretak gigi Damang Samuda mengucapkan itu.

“Bagaimana menurut ­pahari-pahari sekalian? Haruskah kita langgar kesepakatan bue’-datu’6 kita di Tumbang Anoi?” Damang Samuda mulai meminta pendapat.

Para peserta pakat kembali berbisik-bisik sebelum mereka benar-benar siap menyatakan pendapat.

“Silahkan, bagaimana kira-kira menurut pahari-pahari? Sebab keputusan ini harus segera kita ambil agar kejadiannya tidak sampai berlarut-larut” Panglima Api mulai angkat bicara.

“Memang berat hukumnya di hadapan Sang Ranying Hatalla melanggar perjanjian yang telah disepakati. Kalalah7 bakal menimpa, bala akan diturunkan. Tapi dilain sisi harga diri suku kita sedang diinjak-injak saat ini. Sebaiknya kita pikirkan persoalan ini dengan cermat, cepat, dan tepat, agar tidak salah langkah nantinya” Panglima Api memberikan pertimbangan kepada para peserta pakat.

“Untuk para damang alangkah lebih baik jika beristirahat sejenak terlebih dahulu, agar pikiran benar-benar jernih, dan dipersilahkan bermusyawarah terlebih dahulu dengan rombongannya. Besok, sebelum fajar akan kita putuskan bersama-sama langkah yang akan kita tempuh berikutnya. Bukan begitu Damang Samuda?” Panglima Api meminta persetujuan.

Damang Samuda mengangguk.

“Semoga dengan waktu yang singkat ini kita dapat segera mengambil keputusan. Silahkan para tamu menggunakan balai ini untuk sekedar melepas penat, dan mohon maaf jika tidak ada hidangan memadai yang bisa kami suguhkan kali ini, hanya ada kopi, baram, dan sedikit lamang8 yang kami punya saat ini. Silahkan” demikian Damang Samuda menutup pertemuan.

Seusai pertemuan Damang Samuda memanggil salah seorang putrinya dan meminta agar memberitahu istrinya mempersiapkan segala keperluan yang mungkin dibutuhkan esok. Baik untuk hidangan para tamu maupun keperluan Damang Samuda sendiri, sekalian meminta putrinya agar mengabarkan kepada putranya Pendi, untuk segera berkemas dan mempersiapkan diri. Kemudian Damang Samuda kembali menemui Panglima Api.

“Firasatku semakin kuat panglima, aku akan memintamu sebagai pemimpin pergerakan, andai kata pakat telah diambil”.

Panglima Api termenung sejenak.

“Maaf damang, bukan saya menolak permintaan anda. Tapi alangkah lebih baik anda sebagai ketua kerukunan Dayak wilayah ini yang tetap sebagai pimpinan pergerakan. Saya khawatir itu akan mengganggu pandangan yang lain tentang kepemimpinan anda sebagai Damang” Panglima Api merasa tidak berhak atas kepercayaan Damang Samuda.

“Tapi bukankah panglima berpengalaman pada saat kejadian Sambas tempo hari?” dengan nada sedikit memaksa Damang Samuda meyakinkan Panglima Api.

“Sekali lagi saya minta maaf damang. Memang saya berpengalaman, tapi Panglima Burung wanti-wanti beramanat bahwa posisi saya hanya membantu pergerakan ini semaksimal mungkin. Dalam artian tuan rumah tetaplah tuan rumah, yang harus dihargai dan dihormati. Jika saya yang mengambil tampuk pimpinan pergerakan, secara tidak langsung orang akan melihat saya melangkahi anda sebagai Dohong Tempun Petak Penda Metaya9” Panglima Api menegaskan.

“Baiklah kalau memang begitu keputusanmu panglima, aku sangat menghargai kerendahan hatimu. Tapi bisakah kau memberiku saran ataupun masukan dalam pergerakan ini?” Damang Samuda meminta dengan kerendahan hati yang sama.

“Kalau soal itu saya tidak bisa menolak damang. Saya akan bantu sejauh kemampuan saya. Mungkin langkah pertama adalah membagi-bagi tugas sesuai keahlian masing-masing. Sebab pergerakan kita dilakukan secara serentak dari segala penjuru. Petak, danum, riwut, upu, dawen sampai ka kumpai10 akan kita gunakan sebagai sarana dan prasarana pergerakan kita”.

“Maksudmu bagaimana panglima? Maaf, sejak Pakat Tumbang Anoi kami tak terbiasa dengan kekerasan, para tetua kami tak lagi mengajarkan taktik berperang. Bisakah kau gambarkan secara gamblang?”

“Andai kata pakat menyatakan perang, maka kita akan menyerang dari segala penjuru, baik darat, sungai, udara, hutan, dan lain sebagainya. Maksudnya adalah dari darat dan sungai dilakuakan oleh manusia, dari udara dilakukan oleh Antang dan Tingang11, sedangkan hutan sebagai prasarana berupa ramuan pengobatan, kekebalan maupun kesaktian, saya harap damang sudah menangkap maksud saya” Panglima Api menjelaskan secara gamblang.

“Ya, saya mulai mengerti maksudmu panglima. Mungkin Nyai Tewang Kampung yang akan memimpin pergerakan melalui darat dan air, basir-basir yang akan memberikan ramuan dan melakukan ritual Manajah Antang atau Tingang sebagai penunjuk arah, dan panglima yang bergerak melalui angin. Apakah begitu maksud panglima?” Damang Samuda meyakinkan diri.

Tersungging senyuman di bibir Panglima Api seraya berkata.

“Sungguh tak salah masyarakat meminta anda sebagai pimpinan adat wilayah Penda Mentaya ini damang” puji Panglima Api.

“Sebagai tambahan, saya tidak mungkin bekerja sendiri tanpa bantuan Panglima Angin dan Panglima Air, sebab kami adalah satu kesatuan. Unsur menghidupkan dan unsur mematikan tetap harus ada bukan? Mereka menunggu perkembangan pakat ini, baru mereka akan menyusul”. Panglima Api menegaskan.

************************

(Bersambung)

____________________________________________________________

1. Satu-satunya kerajaan yang berada di Kalimantan Tengah dan masih eksis sampai saat ini. Raja pertama Kesultanan Kotawaringin adalah Pangeran Adipati Antakusuma merupakan salah seorang putra Raja Banjar yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Musta’inbillah yang memiliki empat orang anak yaitu : (1) Pangeran Adipati Tuha (Sultan Inayatullah); (2) Pangeran Adipati Anum; (3) Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional); (4) Pangeran Adipati Antakusuma (Raja pertama Kesultanan Kotawaringin); dan (5) Puteri Ratu Aju. Kerajaan Kotawaringin resmi berdiri pada tahun 1679 yang pada saat itu masih di bawah kekuasaan Kerajaan Banjar (sumber : “Mengenal Kabupaten Kotawaringn Barat”, oleh JU. Lontaan & Gusti Muhammad Sanusi).

2. Rangkaian doa-doa menggunakan bahasa Sangiang/Sangen3 bagi pemeluk Kaharingan yang dipanjatkan kepada Rayaning Hatalla Langit dalam setiap rangkaian upacara adat.

3. Bahasa Dayak kuno yang menurut peneliti Barat yaitu Barier et. al. ( 1978 ) dalam “Worterbuch der Priestersprache der Ngaju Dayak” (sebuah kamus bahasa Sangiang Dayak-Ngaju Indonesia-Jerman) disebut sebagai Semantic Parallelism yaitu merupakan rangkaian penamaan referen sebuah bentuk bahasa yang dilambangkan dengan dua kata atau lebih, yang mempunyai satu makna yang sama atau sebanding. Misalnya kata air diungkapkan sebagai nyalung kaharingan belum (zat alam yang memberikan kehidupan), atau “surga sebagai lewu tatau habaras bulau habusung hintan hakarangan lamiang (sebuah tempat yang kaya raya berpasirkan emas bergundukan intan dan berkerikilkan permata) (sumber : http://nyahudayak.blogspot.com)

4. Tempat membakar dupa atau kemenyan

5. Denda adat atas segala bentuk pelanggaran

6. Nenek moyang

7. Kutukan

8. Makanan yang terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan cara dibakar dalam ruas bambu

9. Pemimpin pemilik tanah Penda Mentaya

10. Tanah, air, pohon, daun, bahkan rumput

11. Antang berarti “burung elang”. Tingang berarti “burugn enggang”. Keduanya merupakan burung yang dianggap keramat bagi suku Dayak

Iklan

37 Responses to “Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (4)”

  1. hajri Says:

    jadi ente ni msh bubuhan kota waringin tu lah?
    sip. teruskan broder..

    kan utusannya berdua tuh, ana salah satunya hehehehe.


  2. Le,ada sedikit koreksi pada footnote 11).tingang=burung enggang (lupa nama latinnya);antang=burung elang.Agar tidak terjadi kesalahpengertian(misunderstanding), misalnya:Sang Rayaning Hatalla,seharusnya Sang Ranying Hatalla.Frasa “..mereka sudah menguasai kota,menyerang dan membunuh,dst…”mungkin agak diperhalus(karena mungkin saja pahari dituduh SARA,dll).Hendaknya(menurut saran saya)dengan bahasa yang sangat halus,bgmnapun settingnya sudah jelas dan, rujukannya pasti ke”mereka”.Terima kasih.Tabe,

    Segera di benahi pak, terima kasih sudah berkenan menanggapi comment saya di blog anda.

    Tabe


  3. Uppss!bukan maksud untuk menebar benci ke”mereka”,lho.Saya jadi tdk sabar menunggu lanjutannya nih…:)

    Siaaaap pak, jangan lupa sering datang untuk koreksi lah pak…


  4. Lanjut wal…

    sudah lanjut banar nih, pagat kena hahahaha.


  5. wow…. ternyata kisah menarik ini masih ada lanjutannya. damang samunda dan panglima api, wah, dua tokoh ini agaknya menjadi legenda tersendiri bagi masyarakat kalimantan tengah. kalau terus digali dikembangkan, cerita2 rakyat semacam in i pasti tdak akan melupakan nilai2 kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek-moyangnya, salu dg kisah2na, mas sandy.

    Semoga saya bisa mengangkat nilai2 kearifan lokal dari cerita fiksi ini pak. Matur nuwun sanget pak…

    salam

  6. hajriansyah Says:

    menunggu lagi… (tapi jangan smp kd tegarap ta-nya lah. mun kelawasan kasihan bini mehadang)

    hahahaha sambil nyelam minum coca-cola broder, soal bini di sini banyak.

  7. suwung Says:

    kapan selesainya kalo nyambung terus?

  8. hajriansyah Says:

    sabar kawan. kenikmatan membaca itu bukan di akhir cerita, tapi pada prosesnya yang membuat anda terus bertanya.

  9. Qori Says:

    ceritanya kepanjangan %)…

    saya baca dirumah saja deh,maklum…anak warnet:)

    semoga tidak membosankan juga

  10. hajriansyah Says:

    ke mana nih, lawas kada kelihatan?

    menekuni skripsi biar bisa sidang april nanti broder, maklum dosennya udah mulai cerewet masuk bab 3 ni hehehehe. jadi kisah ngayau untuk sementara absen dulu sembari mematangkan kosep ceritanya.

  11. nyahu Says:

    Silakan maja akan kadue blog-ku. Mungkin ada inspirasi dari update terbaru. Tetap semangat, Isen Mulang!

    oh yuh pahari pasti maja..

  12. nyahu Says:

    O,ya. Semoga ceritanya akan bertambah seru sehabis skripsi rampung.He..he…

    Ide sih sudah ada bos, tapi masih takut variabel ngayau ikutan nimbrung ke dalam variabel akuntansi saya hehehehe….

    Tabe

  13. hajriansyah Says:

    sorry, kada tebalasi sms. aku baru beli bab satunya, tu gin belum tebaca. ni lagi banyak hauran jua, makanya postingannya pina camuh. hehe

    Nah, mun ana malah melincau ke bab 2 wal ai handak melanjut ke bab 3 hehehehe.

  14. hajriansyah Says:

    ayuja….

    wah hanyar menjanguki blog nah broder. Hanyar sandar dari laut jawa langsung nyari internet. untung lautnya jinak kali ini hehehehe. Insyaalah posting seminggu lagi.

  15. hajriansyah Says:

    bah, di mana sudah ni? napa kada singgah ke banjar, mun sdh di kalimantan? kada tahan lagikah sudah-atau bini yang kada tahan? hehe

  16. taufik79 Says:

    lawas kada umpat bajanguk…

  17. Hejis Says:

    Masih duduk maniz menunggu lanjutannya..he..he..

  18. wedyart Says:

    Tetap semangat mendulang kesah miyadi…..

  19. hajriansyah Says:

    akhirnya tejalan jua ke pangkalanbun


  20. Lanjutan …. What do you want? Lanjutannya! When do you want? Secepatnya …. asyik ceritanya.

  21. Hejis Says:

    Ngarep nunggu lanjutannya..hehehe…

  22. hajriansyah Says:

    pabila jua kawanku ni menyambung kisahnya. kada sabar lagi nah penggemar

  23. hajriansyah Says:

    ke mana jua dingsanak seikung ni lah?

  24. hajriansyah Says:

    pabila jua ncungul? di pangkalan bun kada kawa ngenetkah? kada kawa nuliskah? sibuk meurusi (meuruti) bini ja kah?

  25. hajriansyah Says:

    ke mana uuu? hilang lalu nah.

  26. hajriansyah Says:

    pabila jua ni mencungul?

  27. hajriansyah Says:

    nah, komen ke wadahku tapi kada meisi blognya seorang. apa habar, nih?

    Masalah posting kada sampat terus broder, materi balum matang. Ada ja wayahnya hehehe..

  28. allay Says:

    Eeh eeh…
    lah…
    Urang dayak kah neh…

    Amun ana ni lain dayak pang, kisahnya banarai… di mana ente ni?

  29. hajriansyah Says:

    uu dangsanak…


  30. Umai..auj hajri ha ada disini nah…

  31. hajriansyah Says:

    uuu..

  32. hajriansyah Says:

    uuu, kyapa hasilnya semalam?

  33. Ardha Says:

    Gila
    Bagus banget cerpen nya

    Lanjutan nya mana bos?


  34. If only I had a quarter for each time I came here… Incredible article.

  35. Arif Says:

    Wah sumpah keren abis nih cerpen … ayo dong lanjutannya mana ??

  36. Onay beh Says:

    Kueh sambungan eh phari tanggung asaie eh

  37. hihi Says:

    we want more


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: