Aku, Kuli, Kabayan dan Nike Ardila

9 Februari 2009

Kalau kita bicara soal Bandung tentu ingatan kita mengatakan “Oh iya, Paris Van Java, Tanah Pasundan, kota Parahiyangan, Halo-Halo Bandung” atau paling tidak kita ingat makanan khasnya: “peyeum”. Tak pernah terbayang sebelumnya, ternyata aku bisa ke sini juga setelah sekian lama “sunda” menjadi mimpi dan cita-cita.

Obsesi tersebut berawal dari saat aku nonton film “Si Kabayan” (Didi Petet) yang polos, tulus, cerdik, juga beruntung. Tapi yang bikin aku mabuk kepayang adalah sosok “Nyi Iteung” (Nike Ardila) yang tak kalah polos, ramah, manja tapi tulus, tidak matre, cantik pula. Tentu perempuan sempurna menurut standar gadis idamanku.

Saking tergila-gilanya dengan “Nyi Iteung”, apapun kupelajari tentang kultur budayanya. Baik dari segi bahasa walau hanya sekedar dialek belaka, dari lagu-lagunya walau aku tidak benar-benar tau apa terjemahannya Manuk Dadali dan Es Lilin yang sempat kuhafal waktu itu. Kemudian kesenian wayang golek si Cepot yang bikin aku terpingkal-pingkal tertawa.

Soal “Nyi Iteung” ini, berarti aku membicarakan aktris pemerannya, yang waktu itu dimainkan almarhumah Nike Ardila (huhuhuhu, swear!! I do love her). Seorang artis belia multitalenta yang berakting brilian membuat imajinasiku benar-benar terhipnotis dengan sosok wanita sunda.

*********

Sampai suatu saat tersiar kabar bahwa “sang idola” meninggal dunia akibat tragedi kecelakaan mobil yang dikendarainya. Oh, sungguh, betapa aku nelangsa …

Telah pergi Nyi Iteungku…

Telah dikubur pujaan hatiku…

Dikubur pula mimpi-mimpiku…

begitulah kurang lebih bunyi puisi yang aku tulis diposternya, walau akhirnya pamanku marah-marah, sebab poster itu hadiah dari kaset “teh Nike” yang dibelinya, aku tak perduli!!!

Waktupun berjalan tanpa pernah kuperhitungkan pascatrauma itu, mimpi-mimpi dikubur bersamanya. Tidak terasa lulus SLTP, SLTA, lalu melanjutkan ke bangku kuliah walau akhirnya tidak pernah selesai, aku pun bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak kurang enam jenis profesi yang pernah aku jalani, dari tukang jaga wartel, buruh harian di perusahaan kayu, tukang meubel, kuli toko sembako, tukang jaga wartel lagi, tukang cuci mobil dan terakhir menjadi tukang Pegawai Negeri Sipil (bergaya dengan tampang bangga : Apanya yang hebat!!!!???) : akupun sudah lupa siapa Nike Ardila.

Ngomongin soal kerjaan, sejujurnya yang banyak memberikan nilai pembelajaran adalah pekerjaan-pekerjaan sebelum kusandang jabatan sebagai PNS. Yaitu pekerjaan orang-orang pinggiran, pekerjaan masyarakat kasta bawah, pekerjaan yang tidak memerlukan “otak”. Sampai-sampai ibunda tercinta memintaku untuk meninggalkan pekerjaan tersebut.

Ibu tergerak rasa iba, sebab saban pulang kerja, aku merengek-rengek minta diseduhkan jamu (siapa suruh jadi kuli?). Di lain sisi beliau menyadari bahwa aku sudah dewasa, aku berhak memutuskan yang terbaik untuk hidupku, makanya beliau tidak memaksa. Mengapa profesi yang menurut sebagian orang hanya dipandang sebelah mata kujatuhkan sebagai pilihan yang terbaik, sebab saat itu tak ada lagi lapangan pekerjaan yang tersedia sesuai spesifkasiku (lulusan Aliyah Negeri dengan NEM di bawah standar). Dari sana aku baru benar-benar tau apa filosofi bekerja, bagaimana memahami makna survive yang sesungguhnya.

Oke maaf, bukan cerita sentimentil yang ingin aku bicarakan disini, tapi lebih pada bagaimana melakukan pekerjaan dengan mental “kuli” dibidang apapun. Ayah pernah memberiku sebuah nasihat “prinsip utama dalam bekerja”.

“kerjakan saja apa yang terbaik yang bisa kamu kerjakan, jangan pernah tanyakan seberapa besar gaji yang akan kamu terima”. Lebih kurang begitu beliau berkata.

Saat aku menjadi seorang kuli prinsip itulah yang kupakai, begitu pula dengan pekerjaan yang lain. Dan mujurnya aku selalu mendapat kepercayaan berlebih dari bos-bosku dalam setiap pekerjaan itu. Seperti managih uang yang jumlahnya tak kurang puluhan juta saat jadi kuli toko sembako (duit kawan, DUWITT!!!…). Kemudian memperoleh kepercayaan sebagai cabin cleaning (pembersih kabin : jabatan tertinggi dalam hirarki tugas seorang pencuci mobil) di pelayanan cuci mobil, sementara teman yang lain kena jatah “kolong” dan bak belakang.

Singkat cerita, saat aku menjadi seorang PNS masih aku pakai petuah ayah itu sebagai modal kerja. Anehnya dengan otak dengan tingkat kecerdasan yang pas-pasan dan pangkat/jabatan yang sebenarnya belum layak, aku mendapat kepercayaan mengikuti program beasiswa jenjang S1 di Universitas Padjadjaran Bandung, yang akupun benar-benar buta soal jurusannya (Akuntansi kawan, matilah aku….). Akupun bertanya-tanya apa yang para pejabat itu lihat dari diriku? bukankah masih banyak yang lebih pantas dari seorang mantan kuli ini? Tapi aku berfikiran positif saja, bahwa itulah buah dari mengamalkan nasihat ayah, dan belakangan aku tau istilah kerennya yaitu “Integritas” : Sudahlah bung, cukup berbangga-bangganya…

Singkat cerita akupun berangkat ke Bandung bersama delapan rekanku yang lain.

“Paris pan japa mak!!!!”

Seperti orang udik masuk kota (memang!!!), mataku begitu terpana menyaksikan lampu-lampu kota Bandung saat malam, benar-benar kunikmati kemacetan yang katanya bikin otak stress itu, deru kendaraan dengan aneka bunyi klaksonnya, laksana simponi bethoven di telinga, dan yang paling mengagumkan adalah “perempuannya “artis” semua!!!” mau jelek, mau cantik, yang tampak jelas adalah “paha” (sambil menyeka tetesan liur di sudut bibir).

Tapi perasaan itu hanya sekejap kawan, memoriku secara otomatis memutar kembali kenangan masa lalu. Memunculkan slide-slide mimpi tentang lugu, tentang lucu, tentang haru, tentang biru, tentang Nyi Iteungku.

“Dimana gadis-gadis desa itu? di mana senyum-senyum tanpa pamrih itu? di mana Nyi Iteung? dimana Kang Kabayan? di mana semuanya? di mana?” hatiku dihinggapi perasaan hampa…

Akupun membongkar-bongkar lagi tumpukan ingatan dalam kepala, dan akhirnya kutemukan kalimat: bukankah Nyi Iteung sudah lama dikubur di pusara mimpimu bersama Teh Nike…? (Ahhh, aku benar-benar sudah lupa..)

Gelagapan menghadapi kenyataan di depan mata ini, dengan segala ketololan, ketidaktahuan, keterpanaan, kepolosan, kebahagian sekaligus kesedihan, akhirnya kusimpulkan : Akulah si Kabayan…

Iklan

10 Responses to “Aku, Kuli, Kabayan dan Nike Ardila”

  1. hajriansyah Says:

    maulah kabayan hirang.. hahaha, begaya wal ai

    Situ putih garang? bedanya ente beduit ja, ana ni singkip hehehehehe…

  2. pakde Says:

    APa? Kabayan koq bisa nulis ya…hik hik….Salam buat si abah ya..borokokok, salam juga untuk si ambu ya…borokokok!

    Welcome to the Flower City. Selamat berkarya di Kota Kembang. Rajin Belajar Giat bekerja, Jangan duit yang dilihat. Orientasi kerja yang benar adalah menambah Ilmu dan Keahlian dalam Praktek, Setelah memiliki bekal yang cukup, next step you bisa jual keahlian dengan harga tinggi.

    Wah sarannya boleh juga pakde, makanya sekarang lagi usaha untuk menambah ilmu itu. semoga bisa dijual dengan harga tinggi…Amin…

    salam


  3. jadi inget sintrein si kabayan saba kota, hehehe … saya juga suka banget dg kultur etnik sunda. musik yang saya sukai suara serulingnya yang bisa bikin imajinasi makin hanyut.

    kapan-kapan saya boleh pinjem koleksinya kan mas?

  4. Humorbendol Says:

    Nike Ardila…walo dah almarhum, tapi tetep cantik ya….
    hehe…

    akur ndol..

  5. Mahendra Says:

    Bandung telah berkembang menjadi kota metropolitan… Tak ada lagi Nyi Iteung dan Kabayan…
    Yang ada sekarang cuma Megan Fox dan Daniel Radcliffe…

    Tabik… 😦

    iya mas, btw siapa tuh Megan Fox sama Daniel Redcliffe? maklum di kost ga punya tv (serius nih..) hehehehehe…

  6. taufik79 Says:

    Si Kabayan itu paradoks, bisa dibaca dari sisi komedinya (seperti kita lakukan selama ini), tetapi juga bisa kita baca dari sisi tragedinya. Tertawa dari sisi eksoterik dan awam, menangis dari sisi esoterik dan sufistik.

  7. Mahendra Says:

    Ituuuu…, idolanya abg-abg… 😀

  8. Mahendra Says:

    Kapan ke Bandung lagi?

    Sekarang lagi di bandung nih mas, mungkin Juni baru pulang ke Kalimantan…

  9. The Rock Says:

    Buih Manteb blognya Mas Agus,Sukses Slalu..


  10. wah cerita kabayan itu q masih kecil filmnbya bagus sekali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: