Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (3)

7 Februari 2009

Saat yang dinanti-nanti (1)

Bukan hutan saja yang dijarah oleh para pembalak itu. Ganasnya raung mesin-mesin gergaji, bandsaw-bandsaw, chainsaw-chainsaw yang turut mereka dirikan berdengung bising kian memadati bantaran sungai, membiak seperti cendawan di musim hujan, mengabaikan perjanjian untuk secara eksis menjaga pukung-pahewan[1] sebagai aset cadangan bagi masyarakat Dayak. Sungai turut digerus pula, dengan melemparkan racun-racun ramin, air raksa, mercury, putas[2] dan zat bebahaya lainnya ke dalam sungai.

Entah sampai mana masyarakat Dayak harus terus mengalah menyikapi ekspansi yang semakin menggila ini? Hutan, sungai, udara, tidak lagi sebagai sahabat atau sumber hidup dan kehidupan yang dapat menyokong orang-orang Dayak.

Para pendatang itu mulai “ngelunjak”, sebab selama ini masyarakat Dayak memang selalu dengan tangan tebuka menerima kedatangan orang asing. Budaya menghormati tamu merupakan suatu keharusan bagi masyarakat Dayak, dalam artian pendatang asing wajib dijaga dan dilindungi selama mengikuti aturan yang berlaku. Adalah hal yang “memalukan” apabila ada pendatang yang masuk ke wilayahnya, kemudian pendatang tersebut kesusahan atau menderita. Seperti dalam upacara Tiwah misalnya, bagi para pendatang selalu disediakan Balai Hakey[3] oleh masyarakat setempat sebagai tempat bagi dingsanak tuha[4] atau pendatang lain yang beragama Islam.

Seiring perkembangan jaman, budaya toleransi ini selalu dipegang teguh oleh masyarakat Dayak. Tapi ada segelintir pendatang yang bertandang tapi malah merusak tatanan budaya suku Dayak dengan memanfaatkan keterbukaan serta keluguan masyarakatnya, dengan mencuri, merampok, menipu, membunuh, bahkan memperkosa. Sebab semua itu merupakan hal tabu yang pantang dilakukan oleh orang Dayak.

Pada awalnya semua dapat diselesaikan dengan musyawarah, perjanjian adat atau kesepakatan antara pihak yang bermasalah. Perjanjian tinggal perjanjian, para pendatang selalu melanggar dan melanggar lagi. Sementara perjanjian adalah hal yang sakral dalam kebudayaan Dayak, sebab setiap perjanjian atau kesepakatan bukan hanya disaksikan oleh manusia saja, tapi juga oleh Rayaning Hatala Langit[5].

*********************

Malam semakin larut, menebarkan kegelisahan penantian keputusan pakat [6]yang harus segera diambil. Membuat masing-masing pikiran sekelompok orang di dalam balai itu mulai merunut satu-persatu, memilah-milah apa sekiranya yang terbaik bagi mereka nantinya.

Di luar bulan separuh bersinar redup, tertutup awan-awan berwarna kelam seakan pertanda akan terjadi lagi peristiwa suram[7] dalam sepanjang sejarah petak-danum[8] Pulau Begawan Bawi Lewu Telu[9] ini. Akankah Pakat Dayak dan Damang Tumbang Anoi[10] akan di langgar oleh suku Dayak sendiri?

Secara misterius sekelompok burung elang terbang malam berputar-putar membentuk sebuah lingkaran di langit sekitar balai Kampung Samuda.

“Hmm, akhirnya mereka datang juga” mata Damang Samuda terpejam seperti bicara dengan dirinya sendiri.

“Lebih banyak dari yang kita harapkan Damang” Panglima Api menimpali.

“Ya, dengan begitu Pakat yang kita laksanakan malam ini akan lebih baik panglima” mata Damang Samuda yang masih terpejam

“Ya, tentu saja…”

“Nak Ledit, bisakah kau ke luar menyambut tamu-tamu kita?” Damang Samuda meminta Ledit dan mulai membuka matanya.

“Baik Damang” Ledit segera beranjak.

Lebih kurang lima belas menit kemudian, sayup-sayup terdengar suara riuh rendah mirip lolongan yang dapat menciutkan hati siapapun, di luar sana dari tiap penjuru seakan mengepung Balai yang tadinya begitu senyap.

“Kuuuuluk kuluk kuluk kuluk kuluuuuuk!!!… Kuuuuluk kuluk kuluk kuluk kuluuuuuk!!!” suara lolongan itu sahut menyahut dari segala arah : semakin mendekat…

Para pengikut Ledit beranjak dari tempat duduknya keluar menyambut kedatangan para tamu, terbesit rasa penasaran.

Damang… sepertinya tanpa kita melakukan pakat pun Asang Paking Pakang[11] kedua tetap akan terjadi” Panglima Api seakan-akan menyayangkan…

“Apa boleh buat, tapi itupun setelah kita melaksanakan Manajah Antang[12] terlebih dahulu untuk meminta petunjuk Rayaning Hatala Langit, bukan begitu panglima”.

“Tentu, aturan tetap aturan damang. Begitu pula pakat ini serta pantangan-pantangannya[13], sebagai pemenuhan syarat dalam ketentuan-ketentuan Asang atau Kayau bukan? Setahuku begitu yang pernah saya baca dalam Panaturan[14]“.

Damang Samuda beralih pada Nyai Tewang Kampung.

“Sepertinya harpanmu segera terwujud Nyai. Sayangnya bukan Kayau[15] yang akan terjadi menurut firasatku”.

“Apapun damang…Apapun…” lirih suara Nyai Tewang Kampung.

“Semoga mendiang suamiku bangga atas apa yang akan kupersembahkan pada Tiwahnya nanti, setelah kegagalanku menjadi istri yang tak mampu memberikannya keturnan” bergetar bahu perempuan ngayau itu menahan tangis sekuat tenaga, menandakan betapa keras hatinya.

Damang Samuda hanya memandangi sudut jari Nyai Tewang Kampung yang mengepal, entah harus berkata apa, seakan turut meresapi kesedihan perempuan itu. Bagaimanapun mendiang Damang Tewang Kampung adalah seorang sahabat yang sudah seperti saudara kandung bagi Damang Samuda. Dia tahu betul kerisauan pasangan suami isteri tersebut, dari sekian puluh tahun usia pernikahannya tidak juga dikaruniai keturunan.

Walau hal itu tak pernah diucapkan, dituntut atau dikeluhkan sedikitpun dari Damang Tewang kepada isterinya. Namun sebagai isteri tentulah Nyai Tewang Kampung ingin sekali membahagiakan suaminya, sebab anak bagi orang Dayak merupakan suatu kehormatan, terlebih anak laki-laki, yang menurut hukum adat diharapkan menjadi pewaris baik harta, pusaka, maupun kesaktian.

(bersambung)

Tulisan sebelumnya :

(1) Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (2) Ngayau-Ngayau Penda Mentaya 2


[1] Aturan atau norma yang berlaku dalam penebangan pohon di hutan adat yang ditetapkan sebagai cadangan persediaan bagi suku Dayak.(sumber : www.nyahudayak.blogspot.com)

[2] Racun ikan yang sangat berbahaya bagi biota air

[3] Secara etimologis “Hakey” berarti “Islam”. Maka apabila ada suku dayak yang masuk Islam mereka menyebutnya dengan “bahakey”. Oleh sebab itu “Balai Hakey” berarti “tempat/rumah/bangunan Islam” yang disediakan oleh suku Dayak Ngaju pada upacara Tiwah bagi tamunya yang beragama Islam untuk menyembelih dan memasak makanannya sendiri yang dihalalkan bagi mereka. (sumber : http://www.wikipedia.org.id)

[4] Berarti “saudara tua”. Sebutan tersebut diperuntukan bagi suku Dayak dari daerah Kalimantan Selatan yang telah masuk Islam. Pada era kepemimpinan Pangeran Samudra panggilan bagi suku Dayak Banjar yang telah masuk islam diubah menjadi suku Banjar. Menurut riwayat, suku Banjar di sebut sebagai “saudara tua” disebabkan mereka lebih dulu masuk Islam. (sumber : http://www.wikipedia.org.id)

[5] Bagi pemeluk Kaharingan merupakan sosok Tuhan Semesta Alam/Penguasa Langit.

[6] Musyawarah

[7] Perang antar suku Dayak yang kerap terjadi sejak pecah perang Banjar tahun 1859 meluas ke Kalimantan Tengah seperti Perang Pulau Petak, Perang Lentang Tamuan, dsb. Disusul perang yang terjadi di Tumbang Kurun Kalimantan Tengah pada tahun 1885 terkenal dengan Perang Patangan (Perang Tewah) yang meluas sampai Kalimantan Barat dan Timur.

[8] Tanah-air

[9] Sebutan pulau Kalimantan bagi orang Dayak Ngaju yang tertulis dalam Legenda Tetek Tantum yaitu legenda tentang asal usul orang Dayak.

[10] Musyawarah yang membahas perdamaian antar suku Dayak yang terlibat perang. Diselenggarakan di Desa Tumbang Anoi daerah sungai Kahayan Hulu bagian Utara tanggal 22 Mei s/d 24 Juli (60 hari) pada tahun 1894. Acara tersebut dihadiri 400 suku Dayak yang tersebar diseluruh Kalimantan. Pertemuan besar tersebut diprakarsai oleh tokoh Dayak seperti : Damang Batu, Singa Rotang, Singa Duta, Tamanggung Panji dan kawan-kawan. Kesepakatan tersebut tidak hanya kesepakatan antar suku Dayak tapi juga dengan pihak Belanda. Adapun hasil Pakat Dayak dan Damang membuahkan 7 butir kesepakatan yang isinya kurang lebih : (1) menghentikan pertikaian antara Belanda dengan prajurit Barandar (pasukan Dayak) tanpa tuntutan ganti rugi; (2) pihak Belanda mengakui kedaulatan Kedemangan; (3) menghentikan kegiatan asang-maasang (perang antar suku); (4) menghentikan kegiatan bunu-habunu (saling membunuh akibat dendam); (5) menghentikan kegiatan kayau-mengayau (memotong kepala sebagai simbol keberanian); (6) menghentikan hajual hapili jipen (jual beli budak); dan (7) menyempurnakan warisan turun temurun yang dipanku para Damang.

[11] Merupakan perang antar suku Dayak terbesar yang pernah terjadi antara Dayak Ngawa dengan Dayak Ngaju. Adapun target dari aksi “asang-maasang” ini tidak pandang bulu, sasarannya adalah siapapun yang ditemui dari pihak musuh baik anak-anak, wanita, ataupun orang tua, baik yang bersalah ataupun tidak.

[12] Upacara meminta petunjuk kepada Rayaning Hatala Langit (Tuhan) melalui perantara burung elang untuk menentukan arah atau lokasi tujuan yang terbaik, baik dalam bidang pertanian, perikanan, atau jika dalam perang untuk mengetahui posisi dimana musuh berada. Selain itu Manajah Antang juga untuk mengetahui apakah Rayaning Hatala Langit mengijinkan atau tidak suatu kegiatan dengan melihat kedatangan burung elang, apabila burung elang datang berarti Dewa mengijinkan.

[13] Pantangan dalam perang adat (asang-maasang taupun kayau-mengayau) antara lain : tidak boleh mencuri, merampok, berdusta, berzina, dan mengganggu istri dan anak gadis orang.

[14] Kitab suci agama Kaharingan

[15] Perbedaan antara Kayau dengan Asang-maasang atau bunu-habunu, adalah sasaran atau target dari masing-masing aksi. Kayau merupakan pertarungan sportif antara dua orang atau dua kelompok yang memiliki kemampuan “setara” dengan perjanjian serta pemberitahuan terlebih dahulu, bertujuan untuk membuktikan kemampuan atau kehebatan. Pada jaman dahulu kepala hasil mengayau digunakan sebagai maskawin suku Dayak untuk membuktikan kemampuan mempelai pria melindungi isteri dan anak-anaknya. Hal itu pula yang mungkin menjadi sorotan masyarakat luas lebih mengenal budaya ngayau dibanding yang lain, disebabkan orang Dayak lebih bangga menceritakan ngayau kepada para pendatang sebab kayau merupakan simbol kejantanan, keperkasaan, kekuasaan dibanding asang-maasang atau bunu habunu.

Iklan

9 Responses to “Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (3)”

  1. Hejis Says:

    Mas Sandy… nikmat aku membacanya. Lagi-lagi detail nuansa lokal amat membantu membangun narasi. Cuma saya sedikit terganggu dengan pencantuman nomor pada istilah-istilah tertentu sebagai entry catatan kaki. Menurut saya lebih baik tidak diberikan nomor, melainkan cukup cetak miring saja. Nanti di catatan kaki istilah itu diulang lagi. Ini malah membantu pembaca agar tidak bolak-balik melihat nomor dan kata atau istilah yang dimaksudkan. Kalau pun mau menggunakan nomor, maka nomor itu ditulis lebih kecil dari huruf yang digunakan di sini dalam bentuk superscript (seperti tanda pangkat bilangan). Tetapi, mungkin ini akan terbentur masalah teknis penulisan HTML-nya ya. Soalnya menulis di blog berbeda dengan menulis di MS Word ya…

    Salam hangat. Keep writting, bro

    Betul mas, saya juga sebenarnya terganggu dengan angka-angka itu, kadang saat membacanya terputus di tengah jalan dan harus ngulang lagi dari kalimat awalnya (kurang lebih gitu ya?). Ini masih ngari-nyari tombol buat ngecilin size fontnya, eh malah hilang. hehehehe….

  2. Humorbendol Says:

    Wah..Bendol jadi tau tentang Suku Dayak nih.
    Bagus mas…Bisa menambah wawasan.

    syukurlah mas, berbagi pengetahuan sama artinya berbagi rejeki. Semoga bermanfaat, ada postingan baru lagi ga?

  3. taufik79 Says:

    Hheeemmm….. *blm bisa berkomentar** (saking kagumnya)

    edisi 10 kapan terbit bang?

  4. hajriansyah Says:

    sip, bro. deskripsi dan narasi imbang. hanya saja aku penasaran, selain pemahaman/ kesadaran ente sorang yang masih ada darah dayak, sumber-sumber ente tu apa aja. minta pang nama2 bukunya. handak tahu jua nah, hehehe

    silahkan cari lah broder, kebanyakan di perpustakaan daerah pang :
    1. Panaturan (Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MB-AHK). 2003. Palangkaraya)
    2. Kalimantan membangun : Alam dan Kebudayaan (Tjilik Riwut. 1993. PT. Tiara Wacana, Yogyakarta) atau edisi barunya (Nila Riwut. 2004. Galang Press. Yogyakarta). inspirasi awalku dari sini wal, ente akan tau kalau orang dayak yang sebenarnya adalah “Urang Banjar” hehehehe.
    3. Legenda Rakyat Kalimantan Tengah (Deparsenibud Kalteng. 1999. Palangkaraya)
    4. Ekspresi Arsitektural Upacara Tiwah, Studi Kasus Rumah Betang Suku Dayak Ngaju Di Kalimantan Tengah (Yunitha. 2007. ITS Surabaya)
    5. Legenda Lanting Mihing (Kadarismanto, Ch., Hariwung, M.Suyoto; dan Raharjo, Dapy Fajar. 2005. Palangkaraya: Pemerintah Kota Palangkaraya. Dinas Informasi Pariwisata dan Seni Budaya)
    6. Makna Nilai Yang Terkandung Dalam Teks Legenda Dayak Ngaju (Maria Arina Luardini. 2008. Universitas Palangkaraya)
    7. Makna Rumah Betang Suku Dayak Ngaju (Mandarin Guntur. 2007. Universitas Palangkaraya)
    8. http://www.wikipedia.com (persaudaraan dayak dan banjar_
    9. http://nyahudayak.blogspot.com (banyak informasi soal mandau, Tawur Hasapa dan budaya Dayak lainnya)
    10. http://budidayak.blogspot.com (soal sejarah pengayauan ada di sana jua)
    11. Atau klik aja Bang Google lebih komplit hehehehhehe

    selamat menikmati lah….

  5. hajriansyah Says:

    “..orang dayak yang sebenarnya adalah urang banjar”, atau urang banjar sebenarnya adalah orang dayak?

    Pertanyaan ente ku anggap sebagai klarifikasi broder. Ana mungkin salah menfsirkannya, sebab menurut Tjilik Riwut sebagian besar (walau tidak semuanya) orang Dayak Ngaju (daerah Hulu Barito maupun Hulu Kahayan dan hulu sungai lainnya khususnya daerah Kalteng) tu adalah pelarian saat perang Banjar bahari, baik yang belum bersedia masuk Islam pascaperdamaian maupun pelarian pada saat perang berkecamuk. Ana lupa halaman berapa di bukunya, selain aku pernah dengar jua dari kisah-kisah orang tua. Pencerahan dari pertanyaan ente adalah, secara historis memang asal-usul orang Banjar adalah orang Dayak. Maka pernyataan yang benar memang “Urang banjar sebenarnya adalah urang Dayak” Tengkyu broder..tengkyu…

  6. sandi Says:

    cerita yang bagus, gus…
    Andai boleh sedikit saran, pada 5 paragraf pertama, aku merasa deskripsi yang diberikan terlalu berjarak dengan cerita, seolah-olah itu bukan bagian dari cerita melainkan pendapat (opini) dari sang penulis.
    Kupikir akan lebih kuat dan menyatu dengan cerita, bila bagian itu nantinya (5 paragraf awal) sudut penceritaannya diubah (bukan dari sang pencerita/penulis). Bisa dari salah satu tokoh, atau menjadi semacam lintasan-lintasan pikiran mereka.

    Atau, bisa saja saran ane itu tak perlu digubris, gus, wong aku juga belum pernah bikin novel, hehee…

    setelah dibaca ulang, jadi lebih kayak curhat si penulis lah bos, hehehehe. Satu lagi pencerahan buat ana. Sering-sering “sedekah ilmu” gini mas, terlebih buat fakir ilmu seperti ana ni, mau masuk surga kah kada?

  7. hajri Says:

    buat sandi firly:
    klo ngasih saran kd perlu menyela seorang, biar kd/ belum nulis novel smp tuntung bukan berarti sarannya kd baik to..(hehe, mbela diri–soalnya aku rancak jua mmberi saran untuk novelnya yg belum lagi menarik. tapi pasti akan menarik, kok, bro)\

    Tapi ingat sesama penulis tu tidak boleh saling mendahului lah hehehe.


  8. Sepertinya perlu mengangkat kehidupan sang tokoh … pandangan2nya dan berbagai konflik yang terjadi dalam kehidupannya … sebagai bumbu yang penting, seperti Nyai Tewang yang nggak bisa punya anak … bisa digambarkan bagaimana pandangan masyarakat dayak terhadap perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan. Dan konflek2 lainnya yang masih berhubungan dengan lokalitas cerita.

    Permainan imajinasi tentang ilmu panglima juga perlu sekilas ditampakkan …

  9. my rasyad Says:

    Kerajaan kutai hindu itu dari suku dayak apa bukan ya? Mohon maaf kalo pertanyaan ini salah, tp saya tulus bertanya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: