Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (2)

2 Februari 2009

Pria bergelar Panglima Api ini jika dilihat dari perawakannya tidaklah istimewa, sosok lelaki berusia tak lebih empat puluh tahun dengan wajah sebagaimana orang Dayak pada umumnya. Bermata sipit, rambut lurus sekilas hampir sama dengan orang mongolia, hanya saja aura magis yang terpancar darinya dapat membuat layu apapun yang dilewatinya, kendati tak pernah lepas sekilas senyum dari sudut bibirnya.

Tak ada sebilah mandaupun terselip di pinggangnya, hanya ikat kepala berwarna merah yang menandakan dia adalah seorang pejuang Dayak. Konon cerita, Panglima Api memiliki mandau gaib yang dapat diambil kapan saja dari tato yang tergambar di dadanya. Mandau ini pula yang digunakan sebagai alat transportasi dengan cara berdiri di atas mandau tersebut : Mandau Terawang[1]!!

Panglima Api jarang sekali menggunakan mandau sebagai senjata, sebab tugasnya adalah seorang Pemapui[2]. Dengan keahlian yang tidak dimiliki semua pejuang Dayak itu, dia dapat membakar apapun dengan sekali tiup atau meludah saja. Bahkan anehnya yang terbakar hanyalah sasaran yang dituju saja, tanpa mengenai sekelilingnya, rumput sekalipun.

“Ini adalah Nyai Tewang Kampung dari Kampung Tewang, disebelahnya adalah sepasang Basir[3] kembar dari Tumbang Mentangai, Tambang dan Tambing, dan di seberang itu adalah Ledit putra mendiang Damang Penda Mentaya beserta lima orang pengikutnya” Damang Samuda memperkenalkan satu-persatu tamunya.

“Hmmm, tak kusangka akhirnya dapat bertemu dengan para pesohor Dayak Kalimantan Tengah beserta keturunannya” puji Panglima Api seraya mengangkat gelas baramnya tanda bersulang.

“Kukira sosok ngayau wanita dan sepasang basir pangapit kembar hanyalah kabar angin belaka” ujarnya menambahkan. Diamini ketiganya dengan anggukan hormat.

“Panglima terlalu memuji” sahut Nyai Tewang Kampung terlihat agak sumringah.

“Dan kau anak muda… Sungguh, kulihat warisan kharisma Damang Penda Mentaya dari tatapanmu” Panglima Api menatap lekat ke arah pemuda itu.

“Saya juga mendengar keberanian serta kehebatan anda dari cerita-cerita Bapa[4] sewaktu beliau masih hidup panglima” Ledit merasa sungkan dipuji Panglima Api.

“Ah, Bapamu sepertinya melebih-lebihkan ceritanya saja, beliaulah yang terhebat sejauh sepengetahuanku nak Ledit. Sungguh suatu kebanggaan aku pernah mendalami Kaharingan[5] di bawah bimbingan beliau”.

Ledit tertunduk haru mendengar ucapan Panglima Api. Terkenang masa-masa indah sewaktu mendiang ayahnya masih hidup, yang telah mengajarkan berbagai makna kehidupan untuk bekalnya di masa yang akan datang.

Teringat saat pertama kali ayahnya memberi kepercayaan menggenggam ambang[6] untuk belajar bagaimana membuka lahan dalam berladang.

“Untuk menebang batang kayu yang agak besar peganglah pulang[7] ambangmu agak kebelakang, dan kenakan pada bagian depan mata ambang agar lebih bertenaga” Ledit mengingat-ingat kembali ajaran pertama dari ayahnya.

“Sedangkan untuk menyiangi rumput pengang lebih ke pangkalnya dan gunakan seluruh mata ambangmu untuk menebasnya” lanjut ayahnya.

Sederhana tapi mudah dimengerti dan mudah dilakukan, prinsip utamanya adalah keseimbangan. Seperti halnya keseimbangan dalam memegang senjatapun ada aturannya, agar setiap pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Begitu pula membuka lahan untuk pertanian terdapat pula aturan-aturan serta ketentuannya, yang belakangan sudah banyak dilanggar bahkan oleh orang Dayak sendiri.

“Jangan ditebang pohon yang besarnya setengah dapa[8] atau lebih, sebab pohon sebesar itu sudah menghasilkan buah yang dapat dimakan kera-kera, bekantan dan babi hutan, tujuannya agar mereka tidak mengganggu tanaman kita nantinya”. Bapan Ledit mengingatkan.

Dapat dibayangkan jika norma-norma tersebut dilanggar dapat mengganggu ekosistem maupun rantai makanan yang ada di dalam hutan dan sekitarnya. Kera-kera, bekantan, maupun babi hutan secara naluri jika manusia mengganggu makanannya maka kerjanya pun akan menganggu makanan manusia. Atau paling tidak mereka akan lari mencari makanan lebih jauh lagi kedalam hutan. Dengan demikian buaya-buaya di sungai pun kehilangan makanannya, tak ada lagi kera maupun bekantan yang mengambil minum dari sungai atau babi-babi hutan yang menyeberang, maka manusialah yang akan dijadikan sasaran makanan buaya-buaya.

Seperti yang terjadi di daerah hulu beberapa waktu lalu. Buaya-buaya mulai menyerang manusia!! Akibat penebangan liar, pembukaan lahan untuk perkebunan sawit yang membabi buta, sehingga merusak tatanan kehidupan hutan dan sungai, dengan demikian berdampak pada rusaknya rantai makanan di hutan dan bantaran sungai, berpindahnya kera dan babi hutan maka sumber makanan bagi buaya pun berpindah pula.

(bersambung)

Tulisan sebelumnya : Ngayau-Ngayau Penda Mentaya


[1] Mandau terbang

[2] Pembakar

[3] Pemimpin keagamaan suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah dalam melaksanakan upacara adat seperti Tiwah atau Balian yang terdiri dari, Basir Upu bertindak sebagai pimpinan atau pendeta utama/tertinggi. Kemudian ada Basir Pengapit yang bertugas mendampingi Basir Upu dalam melaksanakan ritual. Basir Upu hanya boleh satu orang, sedangkan Basir Pangapit tidak ditentukan, tapi harus berjumlah genap 2, 4, atau 6 orang tergantung situasi dan kondisi. Sebab dalam pelaksanaan upacara adat seperti Tiwah atau Balian pemimpin upacaranya harus berjumlah ganjil yang konon untuk menjaga keseimbangan penyampaian pesan kepada Dewa (Mandarin Guntur, 2007:G15).

[4] Ayah

[5] Agama atau kepercayaan yang dianut oleh suku Dayak pedalaman pada umumnya. Kaharingan secara etimologi berarti “air kehidupan” maka Kaharingan lebih kepada pandangan, pedoman atau tatacara berkehidupan (the way of life) bagi suku Dayak, sebab banyak dari penganut Kaharingan pun beragama Kristen, Hindu, Budha, dan Islam. Hubungannya masyarakat Dayak Ngaju dengan “air” adalah karena mayoritas suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah berdomisili di pinggiran sungai, ditambah lagi sebagian besar legenda-legenda masyarakat suku Dayak Ngaju banyak melambangkan air atau sungai sebagai sumber filosofisnya. (Maria Arina Luardini, 2006:1)

[6] Parang yang bentuknya mirip dengan mandau namun agak panjang, digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti membuka lahan, keperluan rumah tangga dsb.

[7] Gagang senjata tajam seperti mandau, ambang, parang, pisau dsb.

[8] Ukuran sepanjang rentangan dua tangan orang dewasa atau sekitar 1,5 meter.

Iklan

23 Responses to “Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (2)”

  1. Humorbendol Says:

    Iya nih..sekarang banjir dimana-2. Penebangan hutan dah liar banget. ekosistem terganggu…

    bener mas… kalo yang dimakan buaya para penebang atau pembuka lahan itu sih ga masalah, tapi orang yang ga pernah ke hutan malah yang disember, ngeri tak?

    makasih udah mampir


  2. Asyik nich bacanya … teruskan

    semoga tulisan-tulisan anda selalu menjadi sumber semangat saya…

    salam

  3. nyahu Says:

    Trims atas klarifikasinya. Semoga Anda benar. Saya bukan siapa-siapa, apalagi seorang budayawan. Saya juga masih perlu banyak belajar menulis, terlebih disiplin ilmu saya bukan bidang antropologi. Hanya mendengungkan apa yang saya (sedikit) tahu tentang budaya (khususnya Dayak).Mungkin saya juga tidak terlalu tahu apa yang saya ketahui.He..he..(bingung,kan?).Maju terus berkarya. Semoga ketemu di suatu waktu. Tabe,

    wah kalo itu saya ga peduli pak. Asumsi saya anda adalah seorang budayawan handal yang pernah saya kenal, terserah anda mau mengaku atau tidak hehehehe… Yang pasti, ulun handak tutu hasupa dengan piyan sinde waktu kareh…

    salam

  4. p u a k Says:

    Hi..
    Tulisan2mu bagus sekali. Bahasanya beda.
    Salam kenal juga..thanks ya udah mampir.
    Keep writing.. 🙂

    Iya mba saya banyak make istilah dari bahasa Dayak… Senang rasanya anda sudah bersedia mampir.

    salam

  5. omiyan Says:

    gila enak ngebacanya hihihi bener lho

    tapi ga enak dimakan lo mas, hehehe….
    makasih udah mampir.

    salam

  6. taufik79 Says:

    Panglima api, mandau terawang, balian, damang, ngayau, kaharingan…. sangat origin Dayak, mutiara Borneo yg perlu diungkap. Kearifal lokal masyarakat Kalimantan perlu terus diangkat ke permukaan. Selamat…

    Sebenarnya saya cuma tau sedikit bang, tapi harapannya berguna dalam mengangkat budaya masyarakat Kalimantan.

    salam

  7. hajriansyah Says:

    mun dilihat strukturnya pinanya cagaran jadi novel (yg seru) ni, soalnya kalo diniatkan cerpen mesti lebih dipadatkan lagi. tapi pinanya novel pang (pina musti menangguh-nangguh, padahal urang beulah novel jua ai, hehehe). mun ente padatkan dalam kurang-lebih 10.000 karakter–sampai endingnya, lakasi ja kirimkan ke kompas (utk cerpen di hari minggu: opini@kompas.com), musti masuk (pina musti, nangkaya pian ja redakturnya) hehehe.
    bagus!

    Nah broder, ana hanyar tau tuh kalo cerpen batasannya 10.000 karakter. Belum ada rencana ke arah novel pang ni, masalahnya ana masih ragu memutuskan endingnya, mengalir ja dulu (jadi cerita bersambung hehehehe)… kalo udah fix, baru ana konsultasi serius dengan ente. Kan ente yang bakal jadi editor ana, siap ja lo?

  8. NGMP BI SMP Says:

    saya jadi tertarik mengikuti peran panglima api pada lanjutan kisah menarik ini, mas sandy. sanggupkah dia ganasnya buaya2 yang mulai beraksi. sungguh, banyak nilai kearifan lokal yang bisa kita gali dari cerita khas dayak ini. salam kreatif!

    mungkin nanti ada “kalong” juga yang nyasar ke cerita saya mas, hehehehe….

    salam

  9. dias Says:

    Panglima api itu menarik juga ya.. tapi jadi ingat sama cerita wiro sableng yang juga ngambil senjata dara dadanya. tapi punya si wiro kapak dan bukan mandau.

    ngomong-ngomong ada loh jenis buaya yang lebih berbahaya. BUAYA DARAT.. ha…ha… ha…

    makasih juga ya mas udah mampir di pelataranku.

    Bang Wiro Sableng memang hebat kawan, saya juga khawatir jangan-jangan Panglima Api itu nama samaran aja setelah dia ikut transmigrasi dari tanah jawa ke kalimantan hehehehe.
    Soal buaya darat dan buaya sungai bedanya kan cuma cara makannya doang…

    sering-sering mampir kawan
    salam


  10. sekedar silaturahmi …
    mksh y udah mmpir k blogQ
    salam kenal
    maaf g sempet baca postingannya.. hhee..lg buru2 🙂

    it’s oke non, yang penting dah mampir

  11. Ari Says:

    Cerita yang sarat akan makna pelajaran hidup.. mohon di sambung lagi cerita nya.. 🙂

    lagi diusahakan bang


  12. Nah, ini the Very most potential Competitor Of andrea Hirata, telah hadir…
    Lanjut…

    hahahahahaha… ambisi saya itu, siapa tau bisa ngalahin idola sendiri.

  13. hajriansyah Says:

    jangan terburu-buru menyelesaikannyalah, broder. terus mengalir dan eksplor saja. kalau ente sabar, ini akal jadi cerita (novel) yg menarik. soal cerpen, kdd batasan berapa karakter yg harus ada, tapi memang untuk cerpen koran ada batasan seperti itu karena masalah ruang/ halaman, dan di kompas yg kutahu kurang lebih seitu.

    iya jir, terutama masalah istilah yang dipakai gin masih ada yang bolong. Seperti “balian” ternyata itu bukan “jabatan” seseorang, tapi adalah sebuah ritual (akan segera di benahi), ana tau setelah searching sana-sini. Masih banyak yang harus dibenahi biar kada bias nantinya. Masalah sabar, itu pasti broder, biar hasil maksimal. teruslah jadi mentorku…

  14. IRWAN Says:

    Ditunggu lanjutannya….

    siap kawan, sambil kasih masukan juga ya dari anak kobar hehehehe

    salam

  15. Zian Says:

    bisa tukeran link???

    boleh banget zian, silahkan. Senang bisa kenal zian.

    salam

  16. sandi Says:

    ..gus, betul kata hajri, jangan buru-buru. soalnya dia juga lagi bikin novel di kepalanya, dan masih sabar untuk tidak buru-buru memenuliskannya, hehee..

    hahahahaha… ente juga kan broder? saya tau dari hajri ko…


  17. Mana lanjutannya … hayo … tulis terus Mas … ketagihan nich

    Segera pak… ada materi yang belum saya dapat sumber referensinya. Bersedia jadi mentor saya juga kan pa?

    salam

  18. hajri Says:

    aku masih menunggu..

    segera bos

  19. hajri Says:

    masih menunggu..

    Sudah wal ai, akhirnya dapat jua gasan catatan kakinya….


  20. Nah … prinsip keseimbangan … yang sekarang tergilas oleh gemerlapnya modern-modernan.

    Pohon buah yang tidak dimakan oleh manusia, biasanya memang tetap dipertahankan, karena ada seperti buah asam; ada yang dimakan manusia dan ada asam yang dimakan hewan. Jika sumber makanan “penduduk” hutan diganggu, mereka turun ke huma atau ke kebun manusia.

    Cerita yang mengangkat kembali nilai-nilai luhur generasi terdahulu … yang patut untuk diteruskan.


  21. slm knal sodara.. Ane asli batak, saya trksn dgn hikayat nya.. Krna Q emag suka cari2 crita tokoh yg melegenda dri tiap2 daerah indonesia yg sdh Q jalani.. . Tpi bru skrg ane nympe d tanah keramat borneo yg kaya akn kasanah budaya yg akar tunggal nya dayak,tpi tlh mncipta multi etnix yg punya histori sndiri2.. Ok,thanx..
    Lanjut kn.. .

  22. Buhan Banjar Mangaradau Says:

    Behh, harat memang buhannya ni mun masalah di hutan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: