Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (1)

29 Januari 2009

Dalam pekat malam berjalan tergesa seorang pria berikat kepala merah, di pinggangnya terselip sebilah mandau bercorak simpai[1] panglima pada kumpang[2]nya. Di belakang mengikuti lima orang pria dengan ikat kepala yang sama, tergesa pula dengan ketegangan yang semurna, terselip mandau-mandau ber-simpai prajurit dan jelata : semuanya waspada…

“Semoga saja Bapan[3] Pendi sudah menghubungi Damang-Damang[4] Katingan” ujar pria dengan mandau ber-simpai panglima memecah kebekuan.

“Ya, semoga saja. Tapi bagaimana dengan Damang-Damang Kahayan, Sebangau, Arut serta lainnya?” salah seorang dari lima pria dengan mandau ber-simpai prajurit menanggapi setengah berbisik.

“Entahlah, Mungkin nanti akan kita bahas di Balai[5]” jawabnya ringkas. Suasana kembali tegang, yang terdengar hanya derap langkah terburu-buru enam pria berikat kepala merah dengan mandau dimasing-masing pinggangnya.

************

Dalam ruangan Balai yang hanya diterangi lima buah pelita duduk melingkar sepuluh orang dengan kebisuan yang menyelimuti masing-masing benak mereka. Salah seorang diantara kumpulan itu terlihat berusaha melapaskan ketegangan dengan duduk melipat sebelah kakinya ke dada. Di depannya terdapat peralatan menginang[6] yang sudah terlihat tua, dipilihnya dua lembar daun sirih yang agak muda, lalu mengoleskan sedikit kapur, sejumput tembakau jawa, dan dibubuhkan serpihan buah pinang tua serta gambir yang sudah dipotong kecil-kecil menggunakan kancip[7], lalu ditumbuk untuk menghaluskannya.

Setelah dilipat-lipat sedemikian rupa dimasukan kedalam mulut gulungan kinang tadi dengan meletakan di antara geraham seraya mengunyah perlahan sambil merasakan air liurnya mulai bercampur, kemudian meludahkannya pada perigi yang terletak disampingnya.

“Kita masih menunggu Damang-Damang lain datang, untuk membahas langkah-langkah yang akan kita ambil selanjutnya, dan aku mendengar Panglima Burung[8] juga mengirimkan utusannya”. Bapan Pendi angkat bicara dengan sesekali meludahkan lagi air kinangnya.

“Semoga saja nanti keputusannya adalah “perang”, dengan begitu Tiwah[9] tahun depan kita tidak akan banyak biaya” mulai angkat bicara satu-satunya perempuan di sekumpulan orang itu, diringi dengan hembusan nafas getir yang lainnya : tidak terlalu yakin apakah membenarkan atau membantah….

Perempuan itu merupakan sosok wanita setengah baya dengan garis wajah yang dingin dan keras serta menyisakan kecantikan masa muda, adalah seorang mantan ngayau[10] yang dengan keahliannya dapat memenggal kepala tanpa suara, tanpa berdarah, tanpa jerit, dan tanpa kesakitan. Siapapun akan pasti ciut beradu pandang dengannya. Perempuan itu dikenal dengan sebutan “Nyai Tewang Kampung”. Dia adalah perwakilan Damang Pemangku Adat di Kampung Tewang yang juga adalah suaminya.

Kumpang mandaunya ber-simpai unik, dengan lima anyaman melingkar di sisi luar yang antaranya saling bertaut dua lembar tali rotan, menandakan pusakanya memang hanya berhak dimiliki seorang pengayauan : tersangkut anggun sekaligus mengerikan di pinggang si empunnya.

“Kudengar mereka sudah bergerak menguasai kota dan menyerang pahari-pahari[11] kita di sana, pihak kepolisian maupun tentara sudah tidak dapat lagi meredam aksi mereka” gemeletuk gigi Nyai Tewang Kampung menahan murka.

“Ternyata peristiwa Sambas tempo hari tak cukup membuat mereka jera” sambung perempuan itu.

Suasana pun makin mencekam, sekonyong-konyong angin mulai terasa lebih kencang masuk melalui pori-pori dinding Balai yang tersusun renggang, tapi hawa yang menerobos malah terasa panas dan pengap, menerpa pelita-pelita sehingga cahayanya bergerak kian kemari mengaburkan mata. Tak lama terdengar ketokan pintu dari luar.

“Masuklah Panglima Api, kami sudah menunggumu sedari tadi” Bapan Pendi beranjak dari tempat duduk bersiap menyambut tamunya.

“Ah, tak kusangka kedatanganku masih dapat terbaca, ternyata usia tak ikut memakan ketangguhan instingmu Damang Samuda” seloroh seorang pria diambang pintu, tersungging senyum hangat di bibirnya.

“Tidak seberapa dibanding namamu yang sudah terkenal dari hulu sampai hilir sungai Mentaya ini pahari” sambut Bapan Pendi merendah. “Tak kusangka Panglima Burung mengutus salah satu orang kepercayaannya, sungguh kehormatan bagi kami. Silahkan masuk panglima”.

Suasana terasa lebih mencair setelah kedatangan pria ini.

“Siapa lagi yang kita tunggu?” tanya Panglima Api.

“Masih tujuh Damang lagi yang belum datang pahari, lima diantaranya sudah dalam perjalanan” jawab Damang Samuda.

“Sambil kita menunggu sudilah kiranya pahari mencicipi baram[12] kami barang segelas dua sebagai pengobat rasa lelah” Damang Samuda menawarkan.

Panglima Api mengangguk tanda setuju.

(bersambung)


[1] Anyaman khas pada” kumpang” mandau yang terbuat dari tali rotan sebagai tanda status pemiliknya

[2] Warangka; Sarung pedang, pisau, golok, parang, dsb.

[3] Berarti : “ayahnya” si Pendi. Hal tersebut merupakan kebiasaan orang Dayak atau Kalimantan pada umumnya memanggil dengan sebutan ayah dari anak pertamanya, bahkan walau si anak pertama tersebut sudah wafat nama si anak masih digunakan sebagai panggilan kepada orang tuanya.

[4] Para kepala adat suku Dayak (dalam bentuk jamak).

[5] Bangunan adat suku Dayak berupa rumah panggung yang biasa digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat atau tempat berembuk memecahkan suatu permasalahan.

[6] Kebiasaan orang Dayak mengunyah campuran antara daun sirih, buah pinang tua, kapur, gambir, dan tembakau jawa yang disebut “kinang”. Kebiasaan menginang ini dipercaya dapat menguatkan gigi.

[7] Alat pemotong yang mirip dengan gunting tapi matanya berukuran lebih lebar yang gagangnya mirip dengan tang atau ragum.

[8] Salah seorang tokoh Panglima dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan Barat yang memimpin kelompok “Mangkok Merah”.

[9] Salah satu upacara adat suku Dayak untuk pemakaman para kerabatnya, biasanya dilaksanakan oleh beberapa kepala keluarga sekaligus dalam upaya menggalang dana, disebabkan biaya yang akan dikeluarkan tidak sedikit.

[10] Merupakan seorang ahli menggunakan mandau yang bertugas untuk mencari kepala manusia sebagai persyaratan persembahan dalam upacara adat Betiwah atau upacara adat lainnya.

[11] Saudara atau sanak famili

[12] Minuman khas suku Dayak sejenis arak yang terbuat dari permentasi beras, ragi dan campuran tradisional lainnya yang diwadahi tempayan lalu dikubur dalam tanah selama puluhan bahkan ratusan tahun dan disajikan pada saat acara musyawarah, upacara ataupun pesta adat.

Iklan

7 Responses to “Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (1)”

  1. hajriansyah Says:

    nah, ni temanya menarik, broder. dialognya pun asyik. kutunggu sambungannya

    Masih dikikihi arsipnya broder hehehehe… kaya apa neh comment editornya krida kritik lagi. koleram mun kaya ini ana nih… MANNA SEDEKAHMU??

  2. sandi Says:

    menarik, menarik.. bisa menjadi sebuah novel bagus.
    teruskan wal…

    Oke broder, masih perlu banyak referensi nih, sedang diusahakan…

  3. nyahu Says:

    Menarik sekali!!! 2thumbs up!!Dinanti lho sambungannya…Kapan nih novelnya muncul?Kalau terbit, kasih tahu saya, ya…
    Salam,

    Wah wah…jadi mahamen arep tuh pak, budayawan kalteng hakun maja ka hetuh… sering-sering bertandang pak, sekalian sisipkan kritik maupun saran.

    salam

  4. taufik79 Says:

    Nah yang begini nich, cita rasa lokalitas…!!! Saya perlu belajar kepada sampeyan! Lanjuuut..

    Jujur bang, cita rasa lokalitas salah satunya terinspirasi dari karya piyan (Sisigan Sungai Martapura), ulun salah satu pengikut setianya hehehehe….

    salam

  5. hajri Says:

    ceritanya memang bagus. aku terpukau lokalitasnya, jd gak peduli lagi sama yg lain

    Wah wah… ente sudah “mengancam” ana nih broder. kudu banyak eksplor lagi nah hehehe.


  6. Awal yang mengundang … ya mengundang untuk terus membaca. Ada rasa ingin tahu yang tersentuh … menarik.

  7. Melky Says:

    kasi lihat gambar semua panglima oke?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: