Aku, PNS, dan Seorang Dalang

23 Januari 2009

Menurut kisah ibuku aku dilahirkan dengan tanda camar banyu1. Masih menurut ibu, yang melahirkan dengan tanda itu tidak merasakan penderitaan sebagaimana biasanya saat wanita kebanyakan melahirkan, “rasanya cuma mules, seperti ingin buang air besar” begitu katanya. Jika dibanding dengan tanda camar beruang2 “pinggang ini seperti dicincang-cincang” lanjut ibu dengan ekspresi yang cukup membuatku ngilu.

Beruntunglah tidak kutambah lagi beban ibu dengan kelahiran yang menyakitkan, setelah sembilan bulan sembilan hari mengandungku Wahnan ‘ala wahnin3. Bisa jadi kelahiranku yang “mulus” itulah yang menyebabkan ibu agak pilih kasih dengan saudara-saudarku yang lain, dengan memberikan ASI ekstra selama tiga tahun. Sementara kakak serta adikku tak lebih dari dua tahun mengecap hangat, harum dan manis air susu ibu.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara, kakaku seorang perempuan begitu pula adikku. Maka statusku adalah pria nomor dua dalam keluarga, setelah ayah tentunya. Menurut Pak Cokro tetangga kami yang orang Jawa itu, posisiku dalam silsilah adik-beradik dalam hitungan kejawen dikenal dengan istilah Pancuran di apit Sendang4, menurut beliau karir yang cocok untukku adalah menjadi seorang dalang, “laris manis pokoke Ghuuus” selorohnya dengan semangat. Tak lupa disisipkan cerita tokoh “perdalangan” di tanah Jawa yang terkenal di seluruh Nusantara, salah satunya adalah figur dalang yang membintangi iklan obat sakit kepala : bah! Siapa pula yang mau jadi dalang!!??

Bukan profesi itu yang ingin kujadikan sebagai pilihan karir pekerjaanku. Pekerjaan yang menurut seorang penyanyi dangdut legenda Indonesia bisa membuat muka pucat karena darah berkurang… Sebab setauku, seorang dalang kerjanya begadang. Maka akupun memutuskan pekerjaan yang sekiranya memberikan jaminan dihari tua kelak : Pegawai Negeri Sipil!! Exellenentee!!

Maka setelah lulus SMA, dengan modal otak pas-pasan serta tawakal yang tinggi, kuikuti seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil yang diselenggarakan di kotaku. Tak banyak berharap, sebab aku sadar ayah bukanlah orang kaya yang mampu menafkahi para pungli, oknum-oknum beserta antek-anteknya dengan uang yang tak kurang puluhan juta rupiah. Kami hanyalah keluarga sederhana yang sudah bangga dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SLTA. Tapi modal utama yang kupakai dalam berusaha meraih itu adalah tiga konsep agama yang pernah diajarkan oleh guru ngajiku waktu sekolah dulu yaitu tentang ilmu Hakikat, Syari’at serta Ma’rifat.

Guru ngajiku menggambarkan tiga unsur itu dengan sebuah cerita dan bahasa yang sangat mudah kami difahami. Beliau menceritakan, bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang mendapat sebuah peta hata karun yang diperolehnya dari seorang musafir tua. Harta karun tersebut terletak di sebuah pulau nun jauh di tengah samudera dan memerlukan perjalanan tak kurang enam bulan untuk mencapainya. Sementara si pemuda tidak tahu sama sekali bagaimana cara berlayar dan tidak pernah sekalipun turut berlayar. Namun dengan tekad yang bulat pemuda tersebut belajar dengan tekun bagaimana tatacara pelayaran, dari membaca rasi bintang sebagai petunjuk, keperluan apa saja yang kiranya dibutuhkan selama perjalanan, sampai bahtera apa yang tangguh agar dapat sampai ke tempat tujuan, semua dipelajarinya dengan seksama. Akihrnya berangkatlah pemuda tersebut menuju tempat penyimpanan harta karun sebagaimana tertera di dalam peta. Setelah sekian lama perjalanan, sesuai petunjuk sang musafir tua pemuda tersebut menemukan harta karun yang telah dijanjikan, alangkah bahagia bukan?

Adapun analogi dari ceritera tersebut adalah, pada saat pemuda tersebut mempelajari perihal laut serta tatacara berlayar maka si pemuda sedang dalam proses mencari sebuah Hakikat, kemudian saat si pemuda melakukan pelayaran itulah yang dinamakan ber-Syari’at, sedang pada tahap penemuan harta karun itulah yang dinamakan dengan Ma’rifat. Begitupun dalam hal beragama, kita hendaknya mempelajari makna dari amal ibadah kita sepagai penerapan konsep Hakikat, kemudian melaksanakan ibadah tersebut sebagai penerapan Sayari’at. Dan Insya Allah kita akan menemukan siapa diri kita, maka niscaya kita akan mengetahui siapa Tuhan kita. Dengan kata lain, itulah yang sering disebut para sufi dengan Ma’rifatullah : semoga saja, amin…

Nah, konsep itulah yang kugunakan dalam berusaha mencapai cita-citaku menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil. Akupun mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaanku kelak, siang malam tanpa henti belajar, berdoa serta tak lupa meminta restu kedua orangtua, sebagai proses penerapan konsep Hakikat. Akhirnya akupun mengikuti ujian sebagai aplikasi dari Syari’atku.

Apa yang kudapat kawan? Sungguh mujarab konsep itu, aku mendapatkan apa yang kuinginkan sebagai wujud Ma’rifatku. Namaku terpampang dengan gagahnya di papan pengumuman kelulusan. Tak dapat kulukiskan perasaanku saat menyaksikan air mata bahagia ayah dan ibu waktu itu. Iya, ternyata Allah menjawab doa-doa kalian, doa-doaku pula tentunya. Namun yang benar-benar menyakitkan hati adalah celetukan pertanyaan dari beberapa tetangaku, “nyogok berapa gus?” : Cuih!!! Aku nyogok Tuhan tau!!!

Singkat cerita, akhirnya akupun mulai bekerja di instansi Pemerintah Daerah di kotaku. Secara kebetulan entah kenapa aku bisa ditempatkan pada bagian keprotokolan, sebagai seorang protokoler kerjaku antara lain membuat susunan acara yang akan dihadiri para pejabat daerah, menyusun serta menentukan tempat duduknya, menjadi pembawa acara, memanggil siapa saja yang mendapat giliran memberikan kata sambutan, kemudian mengatur tatacara bersalaman, serta ke arah mana bejabat tersebut harus menghadap saat memberikan piagam atau cinderamata, komplitlah pokoknya!

Tidak pernah aku sadari apa yang kukerjakan ternyata mirip sekali dengan apa yang dilakukan seorang dalang. Yang mana kerjanya diawali dengan menyusun wayang mana saja yang sekiranya akan dimainkan dalam pementasan, kemudian siapa saja lakonnya. Pada saat pementasan selalu bernarasi atau bernyanyi sebelum pertunjukan dimulai, setelah adegan selesai menaruh kembali wayang yang telah dimainkan, bernarasi lagi, mengambil wayang lagi, begitu seterusnya… Hanya saja bedanya ditempat aku bekerja, tidak dipasangi pelepah pisang.

Ah, hidup ini memang terkadang lucu……

1. Merupakan pertanda lahir dengan mengeluarkan “air” terlebih dahulu sesaat sebelum melahirkan.

2. Merupakan pertanda lahir dengan mengeluarkan “darah” terlebih dahulu sesaat sebelum melahirkan.

3. Dikutip adari Ayat Suci Al-Qur’an yang artinya lebih kurang“Derita yang semakin menjadi-jadi” atau “Derita di atas derita”.

4. Dari bahasa Jawa yang artinya “Air terjun yang di apit dua telaga”

Bandung, 23/01/2009

Catatan :

Saya mohon dengan segala kerendahan hati, rekan-rekan pembaca sudi kiranya memberikan kritik maupun saran. Baik dari segi penulisan, tanda baca, tata bahasa, penggunaan istilah-istilah, maupun alur ceritanya. Hal tersebut penting bagi saya sebagai bahan pembelajaran. Saya tunggu sedekah ilmu anda….

Salam Sastra, Salam Budaya, Salam Penulis Indonesia…

Iklan

14 Responses to “Aku, PNS, dan Seorang Dalang”


  1. Ente di Jawa kah ? Kirain di Banjar…

    tepatnya, wayah ini ana lagi di Bandung tugas belajar broder, keluarga kami pindah ke Banjar sejak tahun 1984, tahun 1999 keluarga kami bulik kampung ke Pangkalanbun. Sekedar riwayat singkat hehehehe…

    salam


  2. Apalagi yang handak dikritik, wong tulisan bagus gini…

    Masih banyak bolong sana sini broder. Maklum cerpen perdana, silahkan liat komentar sahabat saya tercinta (hajri) dibawah… ana takut klo dibilang bagus trus ana lupa diri hehehehe. Mr. Tukul “Reynaldi” bilang “pujian itu ancaman”.

    salam…

  3. taufik79 Says:

    Filosofis, pesannya pas. Lanjutkan…

    Insya Allah dingsanak..

  4. hajri Says:

    kiranya perlu juga dimasukkan dalam cerpenmu dialog yang hangat antartokoh–tak cukup hanya narasi untuk membangun plot, meski tak harus juga terlalu banyak diaolg. seperti kata raudal (raudal tanjung banua, cerpenis indonesia muda kenamaan), dalam cerpen2 mutakhir indonesia sekarang perlu juga ada keseimbangan antara narasi dan dialog yang membangun struktur cerita atau plot (bujur juakah jar raudal, maaf ai mun salah.)
    kayanya tak perlu dibold tulisan2 yg ente maksudkan sebagai penekanan, insyaallah pembaca paham ja, hanya kata2 serapan yg masih asing dalam bahasa indonesia perlu dimiringkan, dst.
    eksplor lagi, broder! baca (buku) kumpulan cerpen terbaik kompas dari tahun ke tahun, atau ‘jurnal cerpen indonesia’nya raudal dan kawan2 (mungkin ente bisa ngemail raudal untuk mendapatkan buku itu, atau mungkin ada di toko-toko buku sekitar) dan perhatikan tanda bacanya, strukturnya, naraotologinya, dan hal2 remeh seperti di, ke, dll–untuk memudahkan pemahaman.
    oya, ini email raudal, jika ingin berkoresponden dengannya: rtbanua@yahoo.com.
    selamat ber-cerpen-ria!
    salam.

    Nah! nah! komentar seperti ini yang kuperlu broder, hatur nuhun pisan. Siap revisi sebelum terbit hehehehehe…

  5. hajriansyah Says:

    broder, ada lo smsku semalam yg nyambat:…urang tu bamasalah..tembak sana-sini kada belampu”.
    kukira ente menyambat ‘inya’ yg paragah pintar wan ente, sekalinya, kupikirkan, ente yg piragah pintar wan inya lah, kyaitukah?
    mun kyaitu kuralat ucapanku tu: inya urangnya kritis.
    ucapan terdahulu tu untuk mendukung ente ja yg kukira muar wan inya.
    skali lagi kada benar ucapanku terdahulu itu. kuralat.
    salam

    pasti ente tekutan dipajang lo… hahahahahahahaha..

  6. hajriansyah Says:

    bukan masalah takutan, pang. kena jar urang aku penyambatan. bukankah urang yg kritis (bahasa pendukungnya) tu maen tembak sana-sini kada belampu (bahasa muarnya).
    hehehe (cari alasan ja)

    Aja gaya!!!

  7. hudan Says:

    nah ham… PNS kesahnyalah… ayu ai.. keyapa yuklah mun tesambat kesah PNS asa mengguruh nah pemikiran ulun… asa muar ada jua asa kasian ada jua, bacampur tuai…

    Yah, risiko pekerjaan cil ai… Tapi herannya, banyak nang barabut begitu ada penerimaan CPNS. Padahal sudah bukan rahasia lagi kalo bubuhan kami ni memang “mambari muar sekaligus mambari maras” ulun akui dan ulun rasakan, kada habis pikir jua hehehehe…. Dangar-dangar piyan handak merit jar cil lah? urang jauh ni diundang kada kira-kira? (kado apalah kira-kira..)

    Salam…

  8. Denaya Lesa Says:

    Kakak Sandy,

    Idem ama kakak2 belumnya, Kak Sandy pasti jadi penulis hebat. Denaya ngramal dari silsilah kelahiran kakak, AFA, perempuan-laki-perempuan, he he he…

    Oh.. AFA tu ternyata “Pancuran Diapit Sendang” juga toh? (saya baru nyadar hehehehe…). Selain itu @Denaya kan salah satu sumber inspirasi semangat menulis saya, baca deh di posting “Sinergi Antara Bisnis dan Idealisme”. Bedanya, @Denaya di bidang matematika sedang saya di bidang sastranya, sapa tau bisa 100T juga hehehehe.

    Sampaikan salam buat papa @Rohedia ya…

  9. hajriansyah Says:

    baganti baju lah, broder. tapi sudah mandi lo? hehehe

    bajunya ja nang hanyar baganti, kena kuramasnya mehadang bulik, hehehe…

  10. sitijenang Says:

    konon hidup sendiri adalah perjalanan. kalau sudah punya peta, tahu cara, dan sampai tujuan, tempat itu pun barangkali hanya sebuah persinggahan. selanjutnya kita harus terus berjalan… sampai bertemu dua lautan katanya, lalu masih terus berjalan.

    soal tulisan, kalo pake analogi wayang, mungkin perlu direnungkan juga apa makna layar, lampu, serta gedebong pisang.. :mrgreen: tapi secara umum sudah mengalir sesuai pesan yg ingin disampaikan 😎

    wah sepertinya saya harus sering-sering ngaji Tasawuf Jawa ke blog sampeyan mas… Matur nuwun sanget atas “sedekah ilmunya” sebagai tambahan bahan renungan dan ide menulis lagi buat saya.

    salam sejahtera

  11. parakantiga Says:

    Good, kayaknya saya mesti banyak share ama anda, saya sangat suka berbagi, toh hidup gak berarti tanfa bermanfaat bagi oang lain.

    sepakat Pak….

  12. Hejis Says:

    Saya senang terhadap beberapa hal di sini, mas Sandy.

    Tulisan ini enak dibaca dan detailnya lumayan bagus.
    Di akhir tulisan, mas Sandy mengundang kritik. Ini menunjukkan kerendahan hati sang penulis.

    Nah, saya akan memberikan 3 hal:

    Usul saya, penulisan “faham” seyogyanya ditulis “paham”. Jadi, ketika diberikan awalan di akan menjadi “dipahami”. Begitu pun ketikak diberikan awalan me akan menjadi “memahami” bukan “memfahami”. Kemudian penulisan “mempelajari” mestinya ditulis “memelajari”. Karena, dalam bahasa Indonesia, awalan me untuk sebuah kata yang huruf depannya “p”, “p” itu akan luluh. Sehingga menjadi “memelajari”, bukannya “mempelajari”. Kecuali huruf “p” diikuti konsonan, “p”nya tidak luluh, contohnya: mempraktikkan, mempraperadilankan, memprakirakan, dsb.
    Saran, hyperlink blog mas Sandy ini belum terpasang, sehingga bila mas Sandy komen di blogku atau blog orang lain, maka tidak muncul link ke blog mas Sandy.
    Teruslah menulis *hihihi… maksa ya*. Soalnya saya amat menyukai tulisan mas Sandy.

    Maaf ya saya menyampaikan ini karena diundang mas Sandy untuk memberikan masukan. Semoga masukan saya tidak keliru dan bermanfaat.

    Salam hangat. :mrgreen:

    Sebenarnya saya mengundang kritik, lebih karena ga kuat bayar guru les private mas hehehehe.
    Masukan-masukan dari mas Hejis jelas sangat bermanfaat buat saya dan pasti akan saya perhatikan (segera di edit mas).
    Masalah hyperlink, saya masih gaptek sih soal itu, maklum blogger debutan mas hehehe, nanti saya tanya-tanya lagi deh sama temen gimana caranya.
    jangan minta maaf sama saya mas, sebab sebenarnya saya yang akan “meneror” (yang ini bener ga?:mrgreen:) mas Hejis biar sering-sering “sedekah ilmu” sama saya.

    salam hangat

  13. syafwan Says:

    wah.. ini.. tulisan ini… bikin saya baca sampai berulang ulang mencari makna-maknanya…… hebat uey


  14. bagus sekali tulisannya.. sekali waktu saya ingin bertemu utk belajar, mumpung saya sedang bertugas di Sampit.
    banyak hal yang saya ingin pelajari dari budaya lokal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: