Perempuan Sungai Katingan

2 Februari 2009

I

Mengupas senja di sudut hari yang semakin renta saja
Menekuni bait-bait Ilahi di Surau yang juga mulai menua
Ah, apakah sudah terlalu jauh untuku pulang ke rumah
Seperti Surau itu akupun mulai menua
Seperti senja ini akupun semakin renta saja

Di hulu sana menggelora ulak kuala
Membawa hanyut ratik meranti
Sungai-sungai pasang membala
Semoga surut esok pagi

Sungguh wangi sayur humbutmu
Direbus kaldu kesetiaan
Tak tertepis merindukanmu
Perempuan Sungai Katingan

Semoga dapat kulupakan
II

Seraut wajah berisi kegetiran hati
Beranjak lelap dengan kecewa
Jauh memandang ke ufuk mimpi
Tidak pula pagi menjelma :
Lelakikah rumah singgah saat lelah?

Aku tak mampu bicara cinta
Sungguh…
Bukan berarti hatiku masih tertinggal di masa lalu
Saat ini dan sampai nanti, pasti kutitipkan rindu-rinduku

Tapi apa yang kau terima?
Dariku hanya malumu
Dariku hanya sedihmu
Dariku kehampaanmu
Tak cukupkah agar kau benar-benar menjauh?

Akupun terlalu mencintaimu

acuh

22 Januari 2009

Andai sepintas saja
kau mau melirikan mata
biar aku yakin :
kalau aku memang ada

Sungguh…
tak tertafsir dengan kata
betapa aku malu :
menjaja senyum ke parasmu

lama kutunggu
ah, ternyata memang tidak ada
(dia kan cuma tebar pesona…)

keceplosan

21 Januari 2009

Saat terkuak kisah padang ilalang
rautmu menampar tanda cemburu
lebih baik aku diam

Aku tau hatimu tak seperti itu
hanya agar terlihat sayang di mataku
makanya aku diam

Sungguh masa lalumu enggan kutau sebab itu menyakitkan
kau paksa agar aku mencari tau
diamku kian diam

Apa untungnya buat hatiku?
kalau saja kau tau
aku yakin kaupun akan diam

sungguh, tadi aku tak sengaja….

ini tentang hitam
biar saja kelam
jika biru hempaskan di lantai kaca
jingga membakar jingga
hitam diam saja
biru tertawa
lantai kaca dihempaskan
jika jingga tentang kelam
biar saja hitam diam

biru jika hitam
biar jingga di lantai kaca
jika hitam tentang diam
biru saja membakar kelam
……..
……..

ini tentang hitam
ini tentang biru
ini tentang jingga
ini tentang kelam

biar saja diam
biar saja hempaskan
biar saja lantai kaca
biar saja tertawa

rining…

18 Januari 2009

serasa masih semalam
seperti dipelupuk mata
masih wangi bedakmu mengaroma
dalam senyum dan diam

banyak kisah tertinggal
di daun-daun
di riak-riak
di kuala-kuala

sesal apa atas mimpi yang kutangguhkan sendiri
mengadu pada siapa kiranya penyesalan hati
sebab tak mungkin pesisir kampung itu masih sama seperti dulu
pastinya rindu itupun tak lagi untukku

banyak kisah tertinggal
di riak-riak
di kuala-kuala
dalam senyum dan diam

pesan cinta buat ananda

16 Januari 2009

Tak sedikit kami tumpahkan air mata ditangis pertamamu

Tak sedikit kau putuskan syaraf-syaraf ibunda

Tak bosan-bosan kami panjatkan beribu doa

Tak pernah lupa kami sisipkan kasih disetiap marah maupun canda…

Adalah hak ananda membuat kami murka ataupun bangga

Tapi yakinlah apa yang kami berikan selalu atas nama cinta

cukuplah “ya” saja

16 Januari 2009

Lelah di penghujung hari
setelah tadi panas menudung kepala
bersiap lagi untuk malam

Berharap pada mimpi
yang sudah kulukis di album lusuh sisa usia
akankah datang membawa senyum?

“ya, aku akan segera terwujud”

O, mimpi indah kiranya kali ini
pasti kudekap… pasti kudekap…

Tak perlu lama
tak perlu panjang
cukuplah kata “ya”

pasti kudekap… pasti kudekap…

muak

14 Januari 2009

Kelelahan apa pula ini bung
Lahir dari rahim yang mengandung ketidakpuasan duniawi
meneriakan kemuakan berwarna kelam
memuntahkan kesinisan yang tajam
lalu tak malu menelannya lagi

Selalu menelanjangi dengan tatapnya
Tanpa sadar bahwa diri telanjang pula
Batu comberan lebih pantas untuk wajahnya

(apakah dengan memaki kita lebih baik darinya?)

nyanyian hati

14 Januari 2009

Lagumu mengalun sumbang
Coba petik nada minor nun tak sampai
kisahkan ratap dan harap hati…
ya, luka itu memang simponimu…

Miliku irama tentang rindu
Dendangkan syair-syair berhawa surga
Menepiskan arti dunia
Dengan nada nan sumbang pula

Apapun yang hadir dalam rasamu
Apapun yang tumbuh dalam rasaku
mari nikmati saja…

refleksi ke 27

14 Januari 2009

27 tahun sudah sejak jerit tangis pertamaku kuteriakkan
9.720 kali ku saksikan matahari terbit dengan penuh asa
233.280 jam bukanlah waktu yang sebentar untuk d lewati
tapi aku masihlah hampa, hanyalah setetes dari jutaan barel air disamudera

padahal mimpi-mimpiku tak terbatas
nun jauh menembus ruang dan waktu
menepiskan segala dalil-dalil duniawi

biarkan aku bermimpi, dan jangan pernah bangunkan lagi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.